Rabu, 06 Agustus 2014

Bertahan Hingga Kau Ikat Diriku :')

Yang terlihat kadang tak lebih penting dari yang tersembunyi...
Apa yang di rasa kadang lebih penting dari dari apa yang di baca...

Cintaku padamu tak bisa di baca tapi bisa di rasa...
Rinduku padamu tak bisa di lihat namun jelas adanya...

Tak masalah bila kau tak merasa...
Aku tetap mencintaimu...
Tak peduli andai kau tak pahami...
Bagiku tetap berarti...

Semoga engkau terus-menerus di cintai oleh Allah...
Yang tersebab oleh-Nya engkau mencintaiku...

"Bertahan... Sebentar lagi... Sampai kau Ikat Diriku..."

Rabu, 11 Juni 2014

Semoga Allah Memberkahi :)

Kala janji suci terikrarkan... Serasa ikatan yang terikat dengan do'a pun terjawab sudah... Menyempurnakan separo agama... Bersama tangan yang 'kan mengantarkan diriku ke surga... Ini lah jawaban dari 'nikahi atau sudahi, halalkan atau tinggalkan'... Kini kita bersama saling memantaskan diri... Semoga Allah memberkahi... Aamiin... :')

Minggu, 08 Juni 2014

Do'aku untukmu...

Nomor   : 04/SPH-HK/VI/2014
Perihal   : Do'aku untukmu, sayang...

"Assalamu'alaikum... Semoga tangan yang 'kan membawaku ke surga membaca surat ini dalam lindunganNya dan dalam keadaan sehat dengan nikmatNya, aamiin... Suamiku yang ku sayangi... Menemanimu adalah kewajibanku menjadi seorang istri... Tak peduli bagaimana masa lalumu... Dimana karena masa lalu itu kau bisa petik hikmahnya hingga kau menjadi kau yang kini dan mungkin kau yang akan datang... Menemanimu adalah hal yang terindah... Kita melangkah bersama... Mungkin bukan melangkah dari NOL... Namun melangkah dari titik dimana kita berpijak dan 'kan melangkah... Suamiku... Tataplah mataku... Genggam erat tanganku dan letakkan di dadamu... Pandanglah mataku sesuka hatimu... Bila kau ingin yang lebih nyaman, peluklah diriku... Tanganku kan membelaimu dan kan menyenangkanmu... Suamiku, aku tak ingin menjadi seorang istri yang tak bisa menemani dan membantumu untuk berproses dan berprogres... Suamiku... Aku ingin dan kan selalu berusaha berada di sampingmu... Dimanapun kau berada, do'aku mengikatmu... Suamiku... Kini kita berpijak ditanah paling bawah dengan kualitas yang kan menuju ke tingkat selanjutnya... Suamiku, mari kita melangkah bersama... Semangatlah sayang... Aku ada untukmu... Bangkitlah sayangku... :)

Jumat, 06 Juni 2014

Jangan Ada Angkara

Jangan Ada Angkara

"Bersiri terpaku menengadahkan diri ke pelataran langit... Yang tampak tak lain langit malam yang kelam... Bintang tiada berserak seperti kala itu... Bulan pun tak menampakkan padang dirinya... Yang tampak ialah cahaya lampu yang semakin meredup... Hela nafasku memanjang menyambut keheningan di jiwa... Seakan tinggal dedaunan yang terbang terhempas amarah angin menubruk beringin... Ada yang lain... Ada yang lain dengan malamku... Dan aku pun duduk bersama angin malam... Ingin rasanya melukis malam dengan penaku... Agar tampak gambar yang ku rindu... Ingin ku nikmati malam ini dengan dimensi yang lalu... Bahkan panjang kelam ku nikmati hingga fajar menyingsing... Namun takutku semakin akut... Akankah esok hari masih harus ku lihat langit biru yang tak lagi membentangkan pelatarannya yang sama.... Akan esok hari masih harus ku lihat biru langit yang tak lagi membirukan diri ini seperti hari yang lalu... Bahkan tak kuasa ku menyambut senja bersama meganya... Seakan merahnya menandakan amarah... Angkara murka menghantam menggebuk lunturkan hati ini... Seakan tiada lagi daya ku goreskan pena di kanvas yang telah berbeda...
Inginku pelataran langit tetap menjadi kanvas biru yang kan menyatu dengan gores penaku... Ingin ku lukiskan kembali masa yang lalu... Kala langit tiada lalai menghangatkan diri ini... Rindu membiru merujum ulu..."

Saat hati tak lagi bernyanyi
Mentari seakan kian sembunyi
Kutunggu kau tak datang jua menyapaku
Kala badai gelombang mengguncang
Kandaskan hatiku yang kian bimbang
Kucoba teguhkan harapan yang tersisa
'Tuk cintamu

Jangan lagi ada angkara
Demi damai jiwaku
Jangan lagi ada prasangka
Yang 'kan menyiksamu
Demi cinta kita (dan resahkan jiwa)

Begitu banyak jalan berliku
Jangan luruhkan tegarnya hatimu
Dan kuatkan kembali setiap langkahmu
Bersamaku

Jangan lagi ada angkara
Demi damai jiwaku
Jangan lagi ada prasangka
Yang 'kan menyiksamu
Demi cinta kita (dan resahkan jiwa)

Biarkan damai menyapa jiwa yang luka
Biarkan cinta satukan sukma

Kamis, 05 Juni 2014

Di Batas Kota Ini

Dibatas kota ini ku menatap wajahmu
Perpisahan ini membuat lika dihati
Ingin ku berlari namun tak kuasa diriku
Engkau menangis dalam pelukanku

Sendiri kau terpaku melepas kepergianku
Air matamu berlinang membasahi pipi
Seakan kau sesali perpisahan ini

Janganlah kau sesali
Janganlah kau tangisi
Aku pergi untuk kembali lagi
Hapuslah air matamu
Hapus luka hatimu
Nantikan ... aku dibatas kota ini

Pelabuhan jadi saksi ... dermaga tua menanti
Disaat engkau berjanji tuk kembali lagi
Dipelabuhan melawai ku lepas dirimu kasih
Kuharap engkau kembali untukku lagi

"Mengitari dua kota itu... Hingga akhirnya aku terdampar di batas antara dua kota itu seorang diri... Dimana hilangnya dirinya... Kemana perginya... Tlah ku cari di semua tempat dimana kami pernah bersama... Namun ternyata tiada... Seakan nafas ini menciut... Pening menghujam menggembok akal... Tiada kuasa lagi jantung berdetak... Sunyi sendiri ter tusuk dinginnya milenia langit... Semesta meneduhkanmu..."

Kamis-Jum'at, 5-6 Juni 2014

Air Mata Rindu :'(

Tiap malam ku sendiri
Menanti datangnya hari
Yang engkau janjikan
Setia ku menunggu
Walau pun penuh dengan derita

Air mata jadi saksi
Gelisah inggat dirimu
yang selalu datang di dalam mimpiku
Kau peluk aku di dalam cinta

Bilakah kau pulang kurindu padamu Ingin ku peluk erat dirimu
biar malam ini tiada air mata
Yang menghantui dalam hidupku

Tak Ingin Sendiri

Tak Ingin Sendiri

Aku masih seperti yang dulu...
Menunggumu sampai akhir hidupku...
Kesetiaanku tak luntur...
Hatipun rela berkorban...
Demi keutuhan kau dan aku...

Biarkanlah aku memiliki...
Semua cinta yang ada di hatimu...
Apapun kan kuberikan...
Cinta dan kerinduan...
Untukmu dambaan hatiku...

Malam ini tak ingin aku sendiri...
Ku cari damai bersama bayanganmu...
Hangat pelukan yang masih ku rasa...
Kau kasih...
Kau sayang...

"Ingatkah engkau akan tembang kenangan yang satu ini? Tembang ini yang selalu engkau nyanyikan di kala kita sedang berpadu kasih... Malam ini, ku nyanyikan tembang ini berkali-kali... Di bawah langit malam yang menyelimuti... Pulang lah, kasih... Maafkan diri ini yang menggoreskan luka perih... BERTAHAN SEBENTAR LAGI SAMPAI KAU IKAT DIRIKU... :')

Selasa, 03 Juni 2014

Waktu Yang Salah

Jangan tanyakan perasaanku jika kau pun tak bisa beralih
dari masa lalu yang menghantuimu, karena sungguh ini tidak adil

Bukan maksudku menyakitimu, namun tak mudah tuk melupakan
cerita panjang yang pernah aku lalui, tolong yakinkan saja raguku

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka

Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah

Hidup memang sebuah pilihan, tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir dan setengah lagi untuk dia

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka

Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah

Bukan ini yang ku mau,

lalu untuk apa kau datang?

Rindu tak bisa diatur,

kita tak pernah mengerti

Kau dan aku menyakitkan

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka

Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah

Senin, 02 Juni 2014

Dia Yang meng-UTUH-kan Aku

Nomor   : 03/SPH-HK/VI/2014
Perihal   : Bungkam!

Untuk Langit Biru yang ku rindukan datangnya di hari yang mendung ini... Untuk Langit Biru yang ku nantikan kehadirannya di alam yang sepi ini... Untuk Langit Biru yang ku harapkan kehadirannya di senja menyusul malam ini... Untuk dia yang ada di sana... Di belahan langit milenia...

Senja ini begitu terasa akan heningnya mega di garis langitmu yang biasa menyapa...

Senja ini begitu terasa akan kelamnya ufuk di garis langit yang biasa menyambut mata...

Senja ini begitu terasa akan cekaman gelegar di garis langit yang bisa merengkuh di singgahsana...

Tapak kakinya melekatkan pada masa itu...

Bayangannya mendekapkan pada dimensi itu...

Seakan yang tersisa hanya gambar kenangan yang tak terbenam...
Seakan potret sastra melukiskan kerinduan tanpa hadirnya...

Ya!
Yang tersebab karena dan olehNya aku mencintai dan merindukan hadirnya...

Terbungkam seribus bahasa di bawah langit kelam seorang diri...
Meringkuk mendekapkan tangan dalam badan...
menunduk dan sekujur lemas...
Seakan tidak bernyata...
Seakan tidak bernyawa!

Dentuman gelombang tak seperti biasanya...
Bahkan siutan burung tak lagi terikat mesra...
Gemuruh dalam dada menggebuk raga hingga tiada kata...
Tiada bermakna!

Seolah raga ini terkujur lemah lemas tak kuasa...

Tak kuasa membendung lahar panas di kelopak ini...
Bahkan teriakan ini tak bersuara...
Tak bernada!

Seakan raga ini tak lagi utuh...
Seakan hati ini telah runtuh...

Dia...
Dia yang meng UTUH kan diri ini...
Seakan menghilang dan tak jua kembali...

Tiada layang yang ia selipkan disini...
Tiada kabar!
Tiada Pesan!

Berharap semesta merengkuhnya dalam hangat keamanan dan kenyamanan...

Di bawah Senja ini, do'a terselip untuknya yang ada di sana...
Langit Biru...

Sabtu, 31 Mei 2014

Layang Kangen SH

Memutar rekaman lagu yang Abi nyanyikan kala itu dengan penuh penghayatan... Bahkan air mata tak mampu bila di bendung terlalu lama... Lagu spesial untuk diri ini.... Dikala Abi pergi... Di kala Abi ga bisa telepon... Di kala Abi belum sempat balas SMS Umi... :')

"Lagu spesial buat Umi... Di waktu Abi pergi... Di waktu Abi ga bisa telepon... Di waktu Abi belum sempat membalas SMS Umi... Judulnya 'Layang Kangen' punya 'Didi Kempot'... Abi nyanyikan spesial buat Umi..."

Layangmu tak tompo wingi kuwi
Wis tak woco opo karepe atimu
Trenyuh ati iki moco tulisanmu
Ra kroso netes eluh ning pipiku

Umpomo tanganku dadi suwiwi
Iki ugo aku mesti enggal bali
Ning kepriye maneh mergo kahananku
Cah ayu entenono tekaku

Ra maido sopo wong sing ora kangen
Adoh bojo pingin turu angel merem
Ra maido sopo wing sing ora trenyuh
Ra kepethuk sawetoro pingin weruh
Percoyo aku, kuatno atimu
Cah ayu entenono tekaku

^__^ 1 Juni 2014 ^__^

Kamis, 29 Mei 2014

Surat Sapa untuk Suamiku

Nomor   : 02/SPH-HK/V/2014
Perihal   : Hanya Terjarak BUKAN Terpisah

Assalamu'alaikum...
Abi...
Suamiku yang selalu hadir dalam setiap rinduku...
Umi harap, Abi membaca surat ini dengan suasana nikmat berkah dariNya dalam suka maupun duka...

Abi...
Melanjutkan surat yang pertama dari Umi...
Surat ini tertulis pada pukul tepat se usai sholat tahajud...
Surat ini hendak menyapamu yang berada nun jauh di seberang sana...

Abi...
Suamiku yang insyaAllah seorang imam yang mempunyai iman di keluarga kecil kita...

Pagi ini dingin menusuk robekkan ber titik-titik pori penuh duri...
Umi basuh diri ini dengan kesucian berlapis air agar pori kembali terobati...
Umi buka lembar sajadah di tempat dimana kita biasa berjama'ah, bersama...
Takbir terlantunkan...
Berusaha khusyuk...
Penuh khidmat...
Dalam sujud mengingatkan kebersamaan kita...
Cinta kasih yang di persatukan olehNya tetap dan terus menghamba...
Dalam do'a malam Umi, Umi sematkan do'a untukmu, suamiku...
Do'a yang 'kan terpanjatkan kepada seseorang yang Umi nantikan kehadiran pulangnya...

Abi...
Berharap kau tak meneteskan air mata kala membaca surat ini...

Abi...
Hapus air matamu...
Seorang Kapten harus kuat...
'Kau berada di seberang sana pastilah merindukanku...
Apalagi, Abi adalah nahkoda dalam perahu kita...
Umi sebagai penunjuk jalannya...
Simpan air mata itu...
Kobarkan kembali semangatmu, suamiku...

Abi...
Suami sayang...
Teringat kala kita bersama...
Berbagi canda tawa...

Abi...
Umi rindu akan hari-hari sepi tanpa hadirmu...

Biasanya...

Kala pagi menyapa, Abi sambut Umi dengan senyuman dan kecupan hangat, begitu pula sebaliknya...

Sebelum menginjakkan kaki ke lantai, kita sempatkan becanda bersama, penuh goda...
Berdiskusi bersama...
Bercerita...
Dan berbagi kasih...
Menyimpan benihmu disini, di rahim yang kuat ini...

Rutinitas yang tak 'kan terhapus oleh dimensi masa...

Menyiapkan air untuk mandimu adalah tugasku, sayang...
Namun terkadang, dengan sigapnya Abi siapkan itu untuk Umi, istrimu...
Telah ku siapkan baju gantimu di tempat biasa...
Sembari menantimu mandi, Umi siapkan segelas air putih/susu/teh tawar ke sukaanmu...
Seperti biasa pula...
Rampung mandimu, selesai ganti pakaimu, Umi rapikan bajumu...
Dengan kelembutan, tangan ini lincah menyapamu...
Selalu ada gombal rayu saat-saat itu...

Tak lupa menghamba bersama...
Berdo'a kepadaNya...

Hmmm...

Rutinitas lain adalah Umi mencium tangan abi, begitu pula sebaliknya...
Abi cium ke dua pipi ini...
Abi cium ke dua mata ini...
Abi cium kening ini...
Abi lekatkan bibir ini sembari menepukkan hidung kita bersama...
Begitu pula sebaliknya...

Ahhh...

Rasanya semua rutinitas tiada usainya bila tertulis di surat kali ini, sayang...

Ku terima suratmu
Dan ku baca
Dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu
Bersama lagi

Lagu itu yang kau dendangkan kala menyapaku di telepon...
Seakan menambah rindu yang ada...
Tanpamu, sendiri sepi di sini...

Kau pun menyanyikan lagu tembang kenangan yang biasa kita dendangkan...
Seakan mendakan betapa dalam rindumu yang tersimpan...

Suami sayang...
Tetaplah bersemangat di seberang sana...
Umi disini baik-baik saja...
Allah bersama Umi...
Abi jaga hati dan diri baik-baik...
Seperti yang selalu Abi katakan...
Abi selalu disini...
Di hati Umi...

Pergilah kasih
Kejarlah ke inginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah
Demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala ke inginamu, Kapten...

Kita hanya terjarak oleh ruang dan waktu, sayang...
Kita tak terpisah...
Kita berada pada dimensi yang sama...
Kita berada di bawah teduh langit yang sama...
Kita ber pijak di atas ganah yang sama...
Pelataran langit biru menyambut...
Semesta meneduhkan kita...

Dari istrimu yang menantikan hadirmu... ^__^

Surat Rindu untuk Suamiku

Nomor  : 01/SPH-HK/V/2014
Perihal  : Rindu Biru

Assalamu'alaikum...
Abi, bagaimana kabar Abi?
Semoga Abi membaca surat ini dengan keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah...
Aamiin...

Abi...
Ingatkah abi kala pertama kita jumpa?
Dalam sebuah forum resmi ikatan kita di pertemukan...

Abi...
Kala itu kita tak saling kenal...
Bahkan, saat Abi datang dengan segerombol orang, Umi hanya menatapmu kosong...
Tanpa RASA!

Abi...
Pertemuan kite begitulah singkatnya...
Pun tak kenal...
Pun tak sapa...

Abi...
Pertemuan kita berlanjut tanpa ke sengajaan pula...
Kita kembali berjumpa dalam sebuah forum...
Namun, kala itu, Umi sedang di rundung masalah...
Bak di hantam milenia langit masa itu...

Abi...
Malam semakin terang...
Bintang tak henti benderang...
Walau dalam ke polosan tajam mata, hanya satu bintang yang terlihat...

Abi...
Melihatmu tiada rasa...
Meski Abi bolak-balik sibuk dengan urusan Abi...
Umi masih terdiam...
Terbungkam!

Abi...
Tak Umi sangka, suara Abi mengejutkan hati ini...
abi menunjukkan dimana Umi bisa melihat bintang lebih banyak berserak...

Abi...
Saat itu Umi teringat sesuatu...
Beberapa saat sebelum itu, Abi dan Umi chattingan di Facebook...
Yang lebih memalukan, karena rasa penasaran Umi, di depan umum Umi menanyakan "mana sih yang namanya bla bla bla"...
Dan kala itu ada dirimu...

Pertemuan singkat... :')

Komunikasi berlanjut...
Dan masih BIASA!

Namun ternyata, komunikasi itu terjalin semakin erat...

Berawal dari beberapa lagu, tembang kenangan...

Terasa nyaman...
Apalagi, belum lama itu, Umi sedang di landa ke kecewaan...
Abi mungkin tau...

Rasa di antara kita semakin tajam...
Bahkan harapan muncul sekian di pelataran...

Bahkan, kita terbuka dengan masa lalu yang pernah kita alami...

Namun, tau kah kau, Sayang?

Hati ini teriris kala membaca pesan dari seseorang di Handphone mu...
Kau mungkin tau... :')

Isak tangis membiru kala itu...
Seakan harapan pupus...
Sakit... :'(

Namun, Umi masih ber pegang dengan komitmen Umi...
Mengikatmu dengan DO'A...

Hmmm...

Waktu terus berjalan...
Umi dan Abi saling mengisi waktu...
Cepat pesat kilat Abi mengenalkan Umi di keluarga Abi...
Begitu pula sebaliknya...

Singkat cerita...

Ingatkah Abi...
Sawah membentang di bawah terang bulan berselimut kabut itu?

Ingatkah Abi...
Pelataran alun-alun yang mengayunkan palung itu?

Ingatkah Abi...
Ruang dimana kita ber padu rindu?

Ingatkah Abi...
Bangku tua dan terminal Mandala tempat kita bercerita?

Ingatkah Abi...
Pagi siang malam bersama sastra?

Ingatkah Abi...
Dengan buku, koin, stempel, sticker, dan pin?

Ingatkah Abi...
Dengan KeduSusu?
Siomay Hitam?
Roti?
Coklat?
Bubur Kacang Ijo?
Bakso Krikil?
Bebek Goreng?
Ayam goreng?
Mie Ayam?
Es Jeruk?
Jus?
SEMUA!

Ingatkah Abi...
kala janji terikrarkan....
SAH...

Ingatkah Abi...
Kala kita bernyanyi bersama...
Meneteskan air mata bersama?

Ingatkah Abi...
Kala kita mencari perlengkapan bayi?
Bayi yang selalu kita nantikan kehadirannya?
Ranjang bayi...
Tempat duduk bayi...
Tempat makan bayi...
Alat bantu jalan bayi...
Tempat mandi dan renang bayi...
Mainan bayi...
Baju celana sepaty bayi...
Dan lain-lain...
Hingga Abi peragakan mengangkat dan menggendong bayi dari ranjang di tempat umum... :')

Ingatkah saat Umi sakit?
Ingatkah saat Abi sakit?
Abi mungkin tau...
Kita saling merawat dan menjaga...
Kita selalu bergandeng bersama...

Ingatkah Abi...
Saat kita berdua mengisi kajian bersama?

Ingatkah Abi...
Saat kita bertengkar?
Berdua?
Suka?
Duka?

Kini...
Kau harus pergi menempuh citamu untuk kita...
Tembang layang kangen dan di batas kota ini menjadi saksi...

Umi terus menanti...
Menanti Abi kembali disini...
Bersama buah cinta kita...
Bersama kenangan yang selalu menjadi rinduan...

Umi akan selalu mendukung Abi...
Bersama disamping Abi...
Mendorong daru belakang untuk Abi...
Menggandeng bersama...
Dalam suka maupun duka...

Terimakasih, suamiku...
Hadirmu, menjadi semangat biru baru untukku...

Dari istrimu yang selalu merindukanmu...

^__^

Di Batas Kota Ini

di batas kota ini ku menatap wajahmu
perpisahan ini membuat luka di hati
ingin ku berlari namun tak kuasa diriku
engkau menangis dalam pelukanku

* sendiri kau terpaku melepas kepergianku
air matamu berlinang membasahi pipi
seakan kau sesali perpisahan ini

janganlah kau sesali, janganlah kau tangisi
aku pergi untuk kembali lagi
hapuslah air matamu, hapus luka hatimu
nantikan aku di batas kota ini

** (pelabuhan jadi saksi, dermaga tua menanti
di saat engkau berjanji tuk kembali lagi
di pelabuhan melawai ku lepas dirimu kasih
ku harap engkau kembali untukku lagi)

^__^

Senin, 26 Mei 2014

Pergi Untuk Kembali

Langit...
Ingatkah kau kala malam itu kita bersama?
Kita duduk berdua di bawah pelataran bintang...
Berserak seakan menempatkan bulan dalam pangkuannya...
Kita duduk berdua di antara hening malam... Cahaya lampu malam pun bak kunang-kunang mengitari kita...

Langit...
Kala itu kita duduk di antara hamparan sawah yang luas...
Ingatkah kau kala kita berdenrang bersama dalam kedamaian jiwa?

Langit...
Malam itu seakan rindu ter urai...
Terobati dengan hangat kasihmu...
Sembuh oleh ramuan nadamu...

Langit...
Kini kau akan pergi...
Walau sekejap saja, namun rindu yang ter urai itu kan kembali menjadi satu...
Membukit dan menggunung...
Semakin tergumpal...

Langit...
Kau kan pergi...
Pergi untuk kembali...
Kembali di sini...
Merajut tenun cinta kasih yang robek karena rindu...
Melunasi janji suci kita...

Langit...
Ingin rasanya...
Mengulang masa itu...
Dimana kau menitipkan benih sang juang disini...

Langit...
Ku nantikan kau kembali...
Membawa sepucuk nasi masa depan kita...

Kembalilah... Kami menanti...

^sastra^

Sabtu, 24 Mei 2014

Yen Ing Tawang Ono Lintang

"Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu

Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang'e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati

Ndek semono janjimu disekseni
Mego kartiko keiring roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Miraring swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari"

Kali ini semesta meneduhkanku dengan buaian tembang Yen Ing Tawang Ono Lintang... Bukan masalah lagu yang ter kembang... Melainkan potret masa yang terkenang... Tembang yang di gemari oleh seorang Bapak... Seorang yang selalu di rindu oleh putra benihnya... Seorang yang selalu di rindu di atas gubuk tua yang tlah goyah... Gubuk yang selalu menjadi tempat ia pulang... Di mana latar luar tampak hijau menyegar dalam hirup tiap detiknya... Di mana terdapat sungai bening mengalir deras dengan tenang menyimpan gambar kenang yang jua ikut mengalir... Di mana, di gubuk itu pula terdapat seorang Ibu yang terlihat darah juangnya... Terdapat keriput mengerut di wajahnya... Menandakan bentuk perjuangannya...

Hmm... Entah mengapa... Gambaran masa itu melintas dengan cepat dalam memori ini... Seakan gambaran itu mengingatkanku dengan seseorang yang menaruh baktinya untuk ke dua orang tuanya... Seorang Bapak yang telah tiada... Yang mem favorite kan tembang itu... Dan seorang Ibu yang tak luput mendapatkan suapan dari tangan anaknya ketika ia pulang...

Ahhh... Hanya lamunan... Saatnya mengerdipkan mata dan mengumpulkan nyawa... Semesta meneduhkanku... :')

^__^

Kamis, 22 Mei 2014

Terjarak BUKAN Terpisah

"Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi... Harus kah aku lari dari kenyataan ini... Pernah ku mencoba 'tuk sembunyi... Namun senyummu tetap mengikuti..."

    Begitulah lirik lagu Iwan Fals yang selalu ku putar tiap waktu dimana  gambaran sebuah masa mulai menghampiri. Di mana layar lukisan menancap di putaran hitam pandangan. Seakan tancapan itu memutar menusuk gambar pandang mata. Bukan hanya mata. Bahkan tancapan itu menyayat hati yang hanya segumpal daging. Mudah rapuh. Dan mudah terkoyak oleh tajamnya bayangan itu.
    Ahh... Entahlah. Bayangan itu hadir di tiap sela masa ku. Bayangan seseorang yang tak jua berhenti berputar di sini. Seseorang yang ku sematkan dalam setiap do'aku. Seseorang yang ku ikat dalam sujud panjangku. Seseorang yang jauh di sana. Ber pijak di atas tanah yang tak sama. Namun berada di bawah naungan langit yang sama. Aku dan dia tak terpisah dalam ikatan do'a. Aku dan dia hanya di bentangkan oleh jarak. Jarak yang menguji ke sabaran rindu yang ber padu. Di bawah langit biru semesta membentangkan rindu. HANYA TERJARAK. BUKAN TERPISAH. Syukur, sabar, ikhlas, tawakal. ^__^

| Wonosobo, Mei 2014 |

Minggu, 18 Mei 2014

Peran Pelajar Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


"Maraknya Generasi “Biru” Di Kal Pelajar"

Oleh: Selly Puji Hartanto

Sejarah telah membuktikan, Indonesia adalah bangsa besar. Indonesia atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Nusantara adalah salah satu dari tiga mercusuar dunia yang menjadi sentra peradaban dunia di masa dulu. Pada waktu dulu, Bangsa Romawi atau Bangsa Eropa masih bar-bar, Benua Amerika belum diketemukan oleh Peter Columbus, Australia masih menjadi benua “kosong” yang hanya dihuni oleh orang-orang Aborijin, dan benua Afrika sama sekali belum mengalami kemajuan, ternyata yang menjadi pusat peradaban dunia pada waktu itu adalah Asia.
Asia adalah simbol peradaban dunia pada waktu itu. Asialah yang menjadi mercusuar dunia pada waktu itu. Dan, Indonesia adalah menjadi salah satu dari segi tiga emas mercusuar dunia pada waktu itu. Di Asia bagian barat dikuasai oleh Kerajaan Mesopotamia dan Babylonia, di bagian Asia timur dikuasai oleh Kekaisaran China, dan ternyata di bagian Asia selatan atau Asia tenggara ini dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, seperti; Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singosari, Mataram, Kerajaan Demak, dan lain sebagainya. Merekalah yang nota bene menjadi penguasa-penguasa Nusantara, simbol dari salah satu dari tiga mercusuar dunia pada waktu itu.
Tentu Nusantara pada waktu itu sangat kuat. Baik secara militer, politik, budaya maupun ekonomi. Jika Nusantara pada waktu itu tidak kuat, tentu akan mudah sekali aneksasi oleh Kekaisaran China yang juga dikenal memiliki kekuatan militer yang sangat kuat. Namun, nyatanya, pada waktu itu sejarah juga telah membuktikan kalau Kekasiaran China yang sangat kuat itu tidak pernah mampu menundukkan Nusantara atau Indonesia ini. Hal ini, jelas membuktikan kalau Nusantara pada waktu itu sangat kuat.

“Generasi Biru”
Satu lagi yang perlu dicatat, Indonesia adalah dikenal sebagai serpihannya surga. Ini artinya apa? Tentu yang namanya serpihan surga adalah serpihan atau gambaran kecil dari berjuta-juta kenikmatan dan keindahan surga. Atau, pendek kata, Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi. Indonesia adalah negara yang penuh dengan kemakmuran. Tentu bukan hanya karena keindahan alamnya yang memang sudah diakui dunia, melainkan juga iklim tropisnya yang sangat bersahabat dengan segenap para penghuni persada nusantara. Belum lagi dengan sumber daya alamnya yang melimpah ruah. Kekayaan hutan yang menjadi paru-paru dunia, kayu, rempah-rempah yang menyebabkan Bangsa Eropa betah menjajah Nusantara, kekayaan lautan, migas, tambang emas seperti Freeport di Papua, timah di Bangka Belitung, dan sumber daya alam-sumber daya alam lainnya yang ada di seluruh penjuru Nusantara ini benar-benar membuktikan kalau Nusantara atau Indonesia ini memang sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi.
Seperti digambarkan oleh Koes Plus, group band “jadul” alias group band jaman dulu yang mengatakan lautan Indonesia itu bukan lautan tapi kolam susu. Bumi Nusantara juga dikatakan seperti: tongkat dan kayu kan jadi tanaman. Gambaran-gambaran itu semua apa artinya kalau bukan sebenarnya membuktikan kalau Nusantara ini memang benar-benar merupakan serpihannya surga yang memang terbukti penuh dengan kemakmuran.
Namun…
Sekarang ini, yang terjadi justru penuh dengan ironi. Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini, ternyata belum mampu menyejahterakan segenap masyarakat yang ada di segenap penjuru Nusantara hanya karena salah urus. Banyak aset-aset atau sumber daya alam kita, seperti; migas, timah, dan emas yang justru malah dikuasai oleh negara asing. Hal ini tentu saja sangat ironi. Anti klimaks atau anti tesis dari gambaran serpihan surga yang penuh dengan kemakmuran.
Salah urus dalam mengelola sumber daya sumber daya alam yang ada di Nusantara ini tentu bukan hanya akan menyebabkan kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan masyarakatnya, melainkan juga secara psycho-sociology malah sekaligus juga akan menumbuh kembangkan “generasi biru” di kalangan penerus bangsa ini, khususnya pelajar. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan generasi biru, tentu bukannya kader-kader IPM yang terhormat maupun generasi Muhammadiyah pada umumnya. Akan tetapi, generasi biru yang dimaksudkan di sini hanyalah sekedar meminjam istilah dari Slank, salah satu group band terkenal di negeri ini.
Lebih jauh, yang penulis maksudkan dengan generasi biru di sini adalah generasi muda yang cengeng, bermental tempe yang hanya bisa merengek-rengek, meminta tambahan jatah uang saku dan fasilitas-fasilitas lainnya yang bersifat praktis, pragmatis, dan instan, tanpa mau diimbangi dengan kerja keras.
Generasi biru ini adalah generasi atau serdadu-serdadu dari dinasti atau para penganut paham hedonisme yang dikatakan sebagai orang-orang yang berpenyakit wahan sebagaimana yang dimaksudkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, dari riwayat Bukhari dan Muslim. Orang-orang berpenyakit wahan atau langsung saja disebut sebagai para penganut paham hedonisme ini adalah orang-orang yang hanya berorientasi materi atau kemewahan dunia belaka. Ironinya, hanya karena keinginan memenuhi kehidupan hedonismenya yang penuh dengan gemerlapnya kemewahan duniawi, mereka rela menggapainya dengan menghalalkan segala cara.
Tidak mau keras, peras otak, dan peras keringat. Akan tetapi, maunya hanya yang bersifat serba instan, mudah, dan praktis. Penyakit-penyakit kejiwaan semacam itu tentu merupakan turunan dari penyakit wahan yang jelas-jelas sangat destruktif. Marak dan canggihnya teknologi informatika pun turut pula menjadi sumbangsih terbesar maraknya atau tumbuh suburnya generasi biru di kalangan muda atau pelajar pada khususnya.
Itu semua adalah ironi!
Padahal kalangan muda adalah pewaris tunggal dari serpihan surga yang bernama Nusantara ini. Serpihan surga yang salah urus sehingga belum mampu menyejahterakan segenap penghuni persada Nusantara ini. Lantas, apakah kita para pelajar ini akan turut menambah ironi negeri ini dengan menjadi generasi biru yang cengeng, bermental tempe, rapuh, mudah putus asa, mudah stress, lalu menghalalkan segala cara hanya karena ingin menjadi penyembah kaum atau para pemuja golongan hedonis?

Aktivis Cs Pasivis
Sebagaimana yang dikatakan John F. Kennedy, salah seorang presiden Negara Amerika Serikat yang mengatakan: Apa yang akan kau berikan kepada negara? Dan, atau pernyataan Bung Karno, salah seorang funding father negara kita yang mengatakan: Berikanlah aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku goncangkan dunia. Tentu, pernyataan-pernyataan itu jelas menunjukkan, baik secara tersurat maupun tersirat kalau sesungguhnya para pemangku jabatan negara itu sesungguhnya sangat membutuhkan sumbangsih secara nyata kepada para kalangan muda atau pelajar, demi dan untuk negara.
Persoalannya, sekarang, apa yang telah kita berikan kepada negara? Sumbangsih apa yang telah kita berikan kepada negara – demi dan untuk negara?
Pernyataan-pernyataan kedua negarawan terbesar negara itu sesungguhnya jelas menunjukkan kalau mereka sangat membutuhkan sumbahsih kaum muda atau pelajar secara nyata. Bukannya menjadi generasi biru yang cengeng dan bermental tempe yang sangat konsumerisme, atau yang dalam bahasa popularnya dikenal dengan sebutan mudah menjadi “korban iklan” itu. Lalu, di manakah posisi kita sekarang ini sebagai seorang pelajar? Apakah kita ini akan menjadi penerus dari generasi biru yang sangat pasif, dan setia menjadi penganut paham praktis, pragmatis yang serba instan? Ataukah, kita akan menjadi seorang aktivis sebagaimana yang diinginkan John F. Kennedy maupun Bung Karno untuk memberikan sumbangsih kita secara nyata demi dan untuk membesarkan negara?
Tentu, sudah bukan rahasia lagi kalau sesungguhnya kita, baik dari kalangan tua maupun muda, sebenarnya telah terbelah atau terbagi menjadi dua, yaitu; dari kalangan aktivis dan pasivis. Aktivis adalah anak kandung dari idealisme yang sangat ideologis. Seorang aktivis adalah seseorang yang rela bersusah payah demi dan untuk negara, atau demi dan untuk kemaslahatan ummat. Ia rela berkorban, dan rela mempertaruhkan apa pun yang ada dalam dirinya demi dan untuk negara. Dalam logical frame mereka yang ada hanyalah apa yang akan diberikan kepada negara – demi dan untuk negara?
Sedang, pasivis adalah anak kandung dari para penganut paham hedonistis yang sangat materialistis. Tidak mau capai dan juga tidak mau berpusing-pusing demi dan untuk memikirkan negara, atau demi dan untuk kemaslahatan ummat. Mereka sangat praktis dan pragmatis. Pola pikir mereka sangat sederhana kalau tidak ingin dikatakan sangat apatis atau pesimis. Kepekaan sosial pun kurang karena mereka sudah terbiasa dengan pola hidup atau pola pikir yang hanya mengedepankan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Atau, bisa juga dikatakan kalau mereka itu sangat egoistis dan individualistis.
Meski demikian, kalangan aktivis tidak boleh menjadi besar kepala, atau malah antipati terhadap kalangan pasivis. Sebaliknya, kalangan pasivis itu adalah mitra untuk diberdayakan agar mereka lebih memiliki kepekaan sosial. Syukur jika mereka rela dan mau turut menyumbangkan sesuatu yang dimilikinya untuk negara. Entah itu dengan tenaga, harta, pikiran, atau dengan ilmunya.
Ladang Jihad
Sebagai seorang aktivis, terlebih lagi sebagai kader IPM, maka kiranya tidaklah berlebihan kalau sekaranglah saatnya kita menentukan ladang jihad kita. Karena jihad adalah sebagai puncak dari keimanan dan keislaman kita. Akan tetapi, jihad di sini tentu bukanlah “jihad” sebagaimana yang dilakukan para teroris. Tentu  saja bukan itu maksudnya. Melainkan jihad yang paling tepat sekarang ini adalah ghazwul fikr – atau perang intelektual yang memang sangat dibutuhkan dewasa ini. Apalagi musuh-musuh Islam dalam menggembosi atau memusuhi dinnullah al-Islam juga dilakukan dengan cara-cara yang cerdas, terstruktur, dan terorganisasi dengan sangat baik.
Bukankah dalam salah satu hadits Rasulullah Saw mengatakan kalau kejahatan yang terstruktur dan terorganisir dengan baik itu dapat mengalahkan kebenaran?
Pun demikianlah yang tengah terjadi dengan Dunia Islam pada umumnya. Oleh karena itu, cara-cara kita dalam melakukan jihad terhadap musuh-musuh Islam yang memang sangat cerdik (kalau tidak ingin dikatakan licik), dan terstruktur dengan baik, maka kita pun juga harus melakukan dengan skema atau sistem yang juga terstruktur dan terorganisir dengan baik sebagaimana yang dilakukan musuh-musuh Islam.
Walau kita yang nota bene baru sebatas pelajar yang masih ber-tholabul ‘ilmi, namun bukan berarti kita tidak bisa memberikan sesuatu demi dan untuk negara. Setidak-tidaknya kita bisa mempersiapkan diri kita untuk menjadi seorang calon pemikir – tentunya seorang pemikir muslim. Karena, sesungguhnya ladang jihad dengan menempuh jalan ghazwul fikr ini juga tidak kalah kerasnya dibandingkan dengan jihad yang dengan menggunakan fisik. Sebaliknya, jihad dengan ghazwul fikr ini tidak jarang malah sering bisa menundukkan musuh-musuh Islam dengan cara-cara yang sangat cerdas dan diplomatis.
Sebagai contoh peristiwa Piagam Madinah. Rasulullah Saw beserta sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirinnya, ternyata mampu menjadi pucuk pimpinan di Madinah sewaktu Rasulullah Saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Padahal di Madinah sana pada waktu itu terdapat delapan Bani Yahudi yang sangat berpengaruh. Namun, nyatanya, Rasulullah Saw dapat menjadi pemimpin sekaligus juga mengalahkan mereka dengan cara-cara yang sangat cerdas dan diplomatis.
Di sinilah salah satu letak pentingnya jihad bil ghazwul fikr. Karena kita bisa mengalahkan musuh-musuh kita bukan dengan cara-cara kekerasan fisik, melainkan dengan kemampuan intelektual kita. Entah itu dengan bil kalam maupun bil qalam.
Nuun, wal qalami wamaa yasthuruun.



(Penulis adalah sekretaris bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Wonosobo periode 2012-2014)

Jumat, 16 Mei 2014

Langit Biru

LANGIT BIRU

Mengapa langit biru? :)

Langit adalah pelataran yang teramat luas... Langit menyimpan keteduhan yang biasa di rindukan...

Pertanyaan yang terbesit di atas adalah pertanyaan untuk diri saya sendiri... Karena tersebab oleh sesuatu dan beberapa hal mengapa saya sangat menyukai langit biru... ^__^

Bagi saya, biru menyimbolkan kesejukan, ketentraman, kehangatan, dan kesegaran... Dimana kenyamanan pun saya dapat kala menikmati birunya langit :)

Aahhh entahlah... Apapun alasanya... :D

Namun, langit biru menyisakan kenangan... Kenangan dimana saya berada di pelataran coklat dan menengadah ke atas... Menikmati luasnya langit dengan terbatasnya pandangan ini... Setidaknya, kala melihat langit, tidak sepadat kala memutarkan pandangan di pelataran coklat tempat ini berpijak... Terhalang oleh bangunan yang mencakar lembutnya langit... Dan bahkan karena kecilnya diri ini dan karena halangan tersebut, maka sangat terbataslah mata ini memandang sekitar... :')

Semesta meneduhkanku :)

Minggu, 09 Februari 2014

Misteri Anak Berambut Gimbal


Misteri Anak Berambut Gimbal

Karya : Selly Puji Hartanto

             Asap tebal, berwarna keputihan, dari cerukkan besar di Dataran Tinggi Dieng, mengepul memenuhi udara. Di kanan kirinya terlihat areal tanah yang meluas juga berwarna keputihan, ikut pula menebarkan bau tak sedap. Bau belerang!
            Hawa pegunungan yang dingin, teramat dingin malah, entah berapa suhunya, bisa jadi mencapai di bawah titik nol, sedikit pun tak menyurutkan puluhan orang muda-mudi untuk melihat-lihat dari dekat cerukkan besar yang selalu mengepulkan asap tebal keputihan itu.
Itulah Kawah Sikidang!
Salah sebuah kawah yang terletak di Dataran Tinggi Dieng yang selalu ramai dikunjungi banyak orang. Terlebih di Hari Minggu atau hari liburan seperti sekarang ini. Pramudya termasuk dari salah seorang pengunjung itu. Hanya saja, laki-laki muda ini, masih saja enggan turun mendekati bibir kawah sebagaimana pengunjung lainnya. Dia malah sibuk memperhatikan ke sana kemari, seperti sedang mencari sesuatu. Entah apa yang sedang dicari-cari reporter muda dari sebuah koran harian ibu kota itu.
Sosok tubuhnya yang tinggi atletis itu sungguh sangat prima. Dadanya bidang, kulitnya putih bersih, pakaian yang dikenakannya juga cukup rapi. Terlebih lagi wajahnya yang tampan dengan pontongan rambut pendek, rapi, mirip benar seorang eksekutif muda yang tengah haus-hausnya menekuni bisnis.
Tidak heran kemunculan pemuda kota ini tak ubahnya mirip seperti Jaka Tarub yang sangat dikagumi dikagumi bidadari nan cantik jelita,Nawang Wulan. Tak salah kalau kedatangan pemuda ganteng satu ini cukup mengundang perhatian cewek-cewek yang saat itu tengah berada di seputar Kawah Sikidang. Entah itu cewek-cewek pengunjung, cewek penjual souvenir, maupun mbok-mbok penjual makanan ringan di lapak-lapak yang banyak bertebaran di kawasan wisata Kawah Sikidang.
Herannya, sedikit pun Pramoedya tak mau bergeming. Sedikit pun perhatiannya tak terusik melihat dirinya jadi bahan perhatian banyak orang. Dia masih saja berdiri tegak, dengan sebuah kamera besar menggelantung di depan perutnya, sebelah tangannya memegangi kamera kesayangannya itu, sebelah tangannya yang lain ikut-ikutan sibuk mencari-cari sosok yang sangat diinginkannya. Sosok itulah yang membuat dia capai-capai melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Dieng. Hanya saja sayang, sosok orang yang dicari-carinya selama ini belum juga ditemukannya.
Diam-diam Pramoedya mengeluh. Kali ini dia bukan hanya mengeluh karena belum dapat menemukan sosok yang diinginkannya, melainkan juga mengeluh terserang hawa dingin yang semakin lama semakin menggerogoti tulang belulangnya. Kalau bukan hanya karena permintaan sang redaktur di tempatnya bekerja, dan juga kalau bukan karena ingin memenuhi permintaan adik bungsunya yang akan berulang pada Hari Minggu ini, rasanya Pramoedya malas capai-capai melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Dieng.
Yah!
Inilah perjuangan itu. Demi profesi, juga demi menuruti kemanjaan adik bungsunya yang cantik, menggemaskan, akhirnya Pramoedya sampai juga di kawasan obyek wisata Kawah Sikidang. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencari sosok orang atau anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Konon, orang atau anak yang memiliki rambut gimbal sejak lahir itu masih titisan dewa, atau sosok anak yang sangat disukai oleh Ratu Pantai Selatan, atau ada juga yang mengatakan kalau anak itu masih memiliki garis keturunan dengan Kolodite, salah seorang pendiri kota Wonosobo yang konon juga berambut gimbal.
Benarkah itu semua?
Inilah yang sedang dicari-cari kebenarannya. Sebenarnya Pramoedya bisa saja mencari-cari beritya itu lewat internet. Tapi, permintaan dari pemimpin redaksi di koran tempatnya bekerja menghendaki lain. Dia diminta terjun langsung, observasi, investigasi or hunting langsung ke tempat agar mendapatkan berita yang benar-benar memiliki nilai human interst tinggi.
Tak terkecuali Sherina!
Satu-satunya adik ceweknya ini ternyata tidak kalah bawelnya dengan Mas Tarjo, pemimpin redaksi di kantornya. Adik ceweknya yang memang cantik ini, yang sering curhat cowok-cowoknya yang antre ingin memperebutkan cintanya ini, ternyata juga menuntut hal yang sama seperti Mas Tarjo. Observasi, investigasi dan hunting langsung ke Dieng. Mau tidak mau, Pramoedya harus menuruti permintaan sang pemimpin redaksi di kantornya, sekaligus menunjukkan bukti cinta dan kasih sayangnya terhadap Sherina, satu-satunya adik ceweknya yang memang sangat disayanginya.
Namun…
Setelah tidak kurang dari dua jam mengedarkan pandangan matanya menyusuri seantero kawasan wisata Kawah Sikidang, ternyata Pramoedya belum juga dapat menemukan sosok yang dicarinya. Dia belum dapat menemukan sosok seorang anak berambut gimbal sebagaimana yang diinginkan Mas Tarjo dan Sherina, adiknya.
“Sudahlah! Kamu nggak usah bingung. Kalau kamu sudah sampai di daerah Kawasan Wisata Kawah Sikidang, kamu nggak akan kebingungan kalau hanya untuk mencari orang atau anak-anak berambut gimbal di sana. Tak ubahnya kamu seperti mencari batu kerikil di sana. Lalu, buat apa kamu bingung? Nggak ada, kan?”
Itulah kata-kata Mas Tarjo sebelum Pramoedya melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju ke Dieng. Namun, ternyata apa yang dikatakan Mas Tarjo, sang pemimpin redaksi di kantornya tidaklah sesuai dengan kenyataan di lapangan!
“Mana batu kerikil itu? Mana anak-anak berambut gimbal yang banyak bertebaran di kawasan wisata Kawah Sikidang ini? Katanya mereka akan banyak berebut ingin minta di foto. Tinggal dikasih uang tips beberapa puluh ribu saja, mereka sudah antre ingin minta di foto. Tapi mana?”
Akhirnya keluh kesah dari mulut Pramoedya keluar juga. Setelah berjam-jam mencarinya, Pramoedya belum juga menemukan hasilnya. Akhirnya, Pramoedya memutuskan turun dari gardu pandang di seputar kawasan wisata itu, dan terus berjalan ke sana kemari mencari-cari sosok anak-anak berambut gimbal di sana.

                                                                            ***

            Pramoedya membanting pantatnya sedikit kasar di bangku panjang di sebuah warung sederhana yang banyak bertebaran di kawasan wisata Kawah Sikidang. Kali ini wajahnya masih diliputi dengan kekesalan. Setelah ke sana kemari mencari sosok anak berambut gimbal yang diingikannya, ternya belum juga membuahkan hasil. Padahal dia sudah capai-capai melakukan perjalanan panjang dari Jakarta ke Dieng. Padahal dia harus sesegera mungkin membuat liputan berita tentang ”Misteri Anak Berambut Gimbal” di Dataran Tinggi Dieng. Padahal juga dia harus menghadiahi adik bungsunya yang akan berulang tahun di Hari Minggu nanti itu dengan foto-foto anak-anak berambut gimbal dari daerah Dataran Tinggi Dieng.
            Namun…
            Ah!
            Semua kosong! Mlompong. Ternyata Pramoedya sama sekali tak menemukan sosok yang diinginkannya. Dia tak menemukan seorang anak manusia pun yang memiliki rambut gimbal di kawasan wisata Kawah Sikidang itu. Akhirnya Pramoedya memutuskan beristirahat, ngopi sebentar di sebuah lapak atau warung-warung sederhana yang banyak bertebaran di seputar kawasan wisata itu.
            Seorang perempuan tua yang mengenakan pakaian sangat sederhana pemilik warung itu segera menyambutnya ramah. Sigap sekali dia melayani Pramoedya. Tak berapa lama kemudian, ibu tua pemilik warung itu mulai menyuguhkan segelas kopi panas di hadapan Pramoedya.
Iseng-iseng Pramoedya mengambil satu buah makanan khas dari Wonosobo ini. Mengunyahnya sebentar, dan ternyata memang enak. Rasanya agak asing bagi dia yang asli orang Jakarta. Sangat berbeda jauh dengan makanan gorengan yang sering dibelinya di dekat kantornya. Juga sangat berbeda dengan mendoan yang asli Semarang. Tempe kemul ini sungguh unik. Dikatakan kripik juga nggak tepat, namun sangat renyah, dan ah…!
Puan tak sempat lagi mengomentari makanan khas Wonosobo yang sedang dinikmatinya itu. Perhatiannya justru tengah tersita habis mencari-cari sosok anak berambut gimbal di antara kerumunan banyak orang di depan sana.  Lama kelamaan hal ini turut mengundang keheranan ibu tua pemilik warung itu.
“Maaf, Nak! Ibu perhatikan, dari tadi Kisanak kok gelisah, seperti sedang mencari-cari sesuatu, ya?”
“Iya, Bu. Saya memang sedang bingung mencari anak berambut gimbal disini.”
“Sudah Ibu duga. Kisanak tentu sedang mencari-cari anak berambut gimbal di sini.”
“Lho, kok Ibu bisa tahu?”
“Yah, biasanya begitu sih. Apalagi Kisanak bawa-bawa kamera begitu. Tentu Kisanak wartawan, kan?”
“Iya, Bu. Saya memang ingin meliput berita tentang misteri anak gimbal di sini, Bu. Katanya banyak bertebaran disini, Bu. Tapi, nyatanya mana? Dari tadi saya belum menemukan seorang pun anak berambutgimbal di sini, Bu?”
“Kalau dulu memang banyak, Nak.”
“Kalau sekarang?”
“Sekarang mereka sudah nggak mau lagi difoto.”
“Kenapa memangnya?”
“Pamali. Bisa membuat sial satu keluarga.”
“Masak bisa sampai segitunya sih, Bu.”
“Yah, begitulah ceritanya, Nak…”
Kali ini Pramoedya terdiam. Entah apa yang tengah bergejolak dalam pikirannya. Entah percaya, entah tidak.
“Oh ya, Bu? Apa benar anak berambut gimbal itu masih keturunan dewa?” lanjut Pramoedya mulai mengorek keterangan lebih jauh lagi.
“Ada juga yang bilang begitu sih, Nak.”
“Ibu percaya dengan pendapat orang itu yang mengatakan kalau anak berambut gimbal itu masih keturunan dewa?”
“Ya, nggak tahu juga sih, Nak. Soalnya ada juga yang mengatakan kalau anak-anak berambut gimbal itu sangat disukai oleh Nyi Roro Kidul, Penguasa Pantai Selatan, Nak. Ada juga yang mengatakan kalau anak berambut gimbal itu juga masih keturunannya Kolodite, salah seorang pendiri kota Wonosobo ini, Nak.”
“Kalau menurut Ibu, kira-kira yang benar yang mana, Bu?”
“Wah! Ibu juga nggak tahu tuh mana yang benar, Nak. Ibu kan hanya penjual warung. Jadi mana sempat Ibu mikir sejauh itu. Barangkali Kisanak malah lebih tahu dibandingkan dengan Ibu.”
Bingung juga Pramoedya. Akhirnya dia hanya bisa garuk-garuk kepala.  Tak tahu lagi apa yang mesti ditanyakan.Namun, sebagai seorang wartawan, tentu saja Pramoedya tak kan kehabisan akal untuk mengorek keterangan. Walau tadi sempat gugup, namun sekarang dia mulai dapat mengendalikan dirinya.
“Apa benar kalau anak-anak berambut gimbal itu sering minta diruwat?” lanjut Pramoedya lagi.
“Iya, Nak. Tapi biasanya kalau si anak berambut gimbal itu sudah mau minta dicukur rambutnya, Nak.”
“Biasanya umur berapa tahun anak-anak itu minta diruwat, Bu?”
“Ya, tergantung dari permintaan anaknya itu sendiri kok, Nak.”
“Begitu ya, Bu.”
“Iya.”
“Apa benar setiap permintaan anak gimbal itu harus dituruti?”
“Iya.”
“Kalau nggak dituruti bagaimana?”
“Ya. Nanti sih bakal ada musibah. Entah itu akan menimpa anak, keluarga, atau bahkan segenap penduduk dusun.”
“Sampai segitunya ya, Bu?”
“Iya sih.”
“Tapi, kalau misalnya permintaan anak-anak itu aneh-aneh bagaimana, Bu?”
“Aneh-aneh bagaimana maksudnya, Nak?”
“Ya misalnya minta dibeliin pesawat terbang, minta mobil atau yang lainnya?”
“Ya tetap harus dituruti, Nak.”
“Oh ya?”
Pramoedya terperanjat. Kedua bola matanya seperti mau loncat keluar saking kagetnya.
“Iya, Nak. Tapi, setahu Ibu, nggak ada sih sampai minta yang aneh-aneh seperti itu. Paling ya minta ditanggapi wayang atau yang lainnya.”
“Atau jangan-jangan rambut gimbal itu apa bukannya karena si orang tua saja yang nggak mau atau malas menyisirrambut anak-anaknya, hingga akhirnya rambutnya gimbak seperti itu, Bu?”
“Ya, nggak begitu juga, Nak. Walau setiap pagi disisir, kalau dasarnya gimbal ya tetap saja gimbal, Nak.”
“Begitu ya, Bu.”
“Iya, Nak.”

                                                                               ***

Lumayan puas Pramodya ngobrol dengan Ibu pemilik warung itu. Namun sebagaimana umumnya wartawanm, tetaps aja dia masih ingin mencari keterangan lebih lanjut. Apalagi dia belum memiliki foto anak gimbal yang akan dijadikan foto untuk beritanya, sekaligus juga akan diberikan untuk adik bungsunya yang pada hari Minggu ini ulang tahun.
Karena itulah, selepasnya dia dari kawasan wisata Kawah Sikidang, dia berusaha keluar masuk dusun di daerah Dieng Barat hanya untuk mengambil gambar anak-anak berambut gimbal. Hanya saja sayang, setiap kali dia bertemu dengan anak gimbal yang dicarinya, setiap kali itu pula anak-anak berambut gimbal itu sudah berlarian masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Mereka takut kalau difoto. Mereka tidak seperti dulu lagi. Ramah dan selalubersikap baik setiap kali ada orang yang ingin memfoto mereka.
Tapi, sekarang susahnya minta ampun, walau mereka telah diiming-imingi uang ratusan ribu sekali pun. Akhirnya Pramoedya mulai putus asa. Apalagi dari setiap penduduk dusun yang dikunjunginya mulai menunjukkan rasa tidak sukanya. Akhirnya Pramoedya memutuskan untuk pergi meninggalkan dusun itu. Dengan mengendarai Avansa-nya, Pramoedya terpaksa harus kembali ke hotelnya. Di sanalah dia mulai melamun, merenung memikirkan berita yang akan ditulisnya…

                                                                             ***