"Maraknya Generasi “Biru” Di Kal Pelajar"
Oleh: Selly Puji Hartanto
Sejarah telah membuktikan, Indonesia adalah bangsa besar. Indonesia atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Nusantara adalah salah satu dari tiga mercusuar dunia yang menjadi sentra peradaban dunia di masa dulu. Pada waktu dulu, Bangsa Romawi atau Bangsa Eropa masih bar-bar, Benua Amerika belum diketemukan oleh Peter Columbus, Australia masih menjadi benua “kosong” yang hanya dihuni oleh orang-orang Aborijin, dan benua Afrika sama sekali belum mengalami kemajuan, ternyata yang menjadi pusat peradaban dunia pada waktu itu adalah Asia.
Asia adalah simbol peradaban dunia pada waktu itu. Asialah yang menjadi mercusuar dunia pada waktu itu. Dan, Indonesia adalah menjadi salah satu dari segi tiga emas mercusuar dunia pada waktu itu. Di Asia bagian barat dikuasai oleh Kerajaan Mesopotamia dan Babylonia, di bagian Asia timur dikuasai oleh Kekaisaran China, dan ternyata di bagian Asia selatan atau Asia tenggara ini dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, seperti; Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singosari, Mataram, Kerajaan Demak, dan lain sebagainya. Merekalah yang nota bene menjadi penguasa-penguasa Nusantara, simbol dari salah satu dari tiga mercusuar dunia pada waktu itu.
Tentu Nusantara pada waktu itu sangat kuat. Baik secara militer, politik, budaya maupun ekonomi. Jika Nusantara pada waktu itu tidak kuat, tentu akan mudah sekali aneksasi oleh Kekaisaran China yang juga dikenal memiliki kekuatan militer yang sangat kuat. Namun, nyatanya, pada waktu itu sejarah juga telah membuktikan kalau Kekasiaran China yang sangat kuat itu tidak pernah mampu menundukkan Nusantara atau Indonesia ini. Hal ini, jelas membuktikan kalau Nusantara pada waktu itu sangat kuat.
“Generasi Biru”
Satu lagi yang perlu dicatat, Indonesia adalah dikenal sebagai serpihannya surga. Ini artinya apa? Tentu yang namanya serpihan surga adalah serpihan atau gambaran kecil dari berjuta-juta kenikmatan dan keindahan surga. Atau, pendek kata, Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi. Indonesia adalah negara yang penuh dengan kemakmuran. Tentu bukan hanya karena keindahan alamnya yang memang sudah diakui dunia, melainkan juga iklim tropisnya yang sangat bersahabat dengan segenap para penghuni persada nusantara. Belum lagi dengan sumber daya alamnya yang melimpah ruah. Kekayaan hutan yang menjadi paru-paru dunia, kayu, rempah-rempah yang menyebabkan Bangsa Eropa betah menjajah Nusantara, kekayaan lautan, migas, tambang emas seperti Freeport di Papua, timah di Bangka Belitung, dan sumber daya alam-sumber daya alam lainnya yang ada di seluruh penjuru Nusantara ini benar-benar membuktikan kalau Nusantara atau Indonesia ini memang sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi.
Seperti digambarkan oleh Koes Plus, group band “jadul” alias group band jaman dulu yang mengatakan lautan Indonesia itu bukan lautan tapi kolam susu. Bumi Nusantara juga dikatakan seperti: tongkat dan kayu kan jadi tanaman. Gambaran-gambaran itu semua apa artinya kalau bukan sebenarnya membuktikan kalau Nusantara ini memang benar-benar merupakan serpihannya surga yang memang terbukti penuh dengan kemakmuran.
Namun…
Sekarang ini, yang terjadi justru penuh dengan ironi. Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini, ternyata belum mampu menyejahterakan segenap masyarakat yang ada di segenap penjuru Nusantara hanya karena salah urus. Banyak aset-aset atau sumber daya alam kita, seperti; migas, timah, dan emas yang justru malah dikuasai oleh negara asing. Hal ini tentu saja sangat ironi. Anti klimaks atau anti tesis dari gambaran serpihan surga yang penuh dengan kemakmuran.
Salah urus dalam mengelola sumber daya sumber daya alam yang ada di Nusantara ini tentu bukan hanya akan menyebabkan kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan masyarakatnya, melainkan juga secara psycho-sociology malah sekaligus juga akan menumbuh kembangkan “generasi biru” di kalangan penerus bangsa ini, khususnya pelajar. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan generasi biru, tentu bukannya kader-kader IPM yang terhormat maupun generasi Muhammadiyah pada umumnya. Akan tetapi, generasi biru yang dimaksudkan di sini hanyalah sekedar meminjam istilah dari Slank, salah satu group band terkenal di negeri ini.
Lebih jauh, yang penulis maksudkan dengan generasi biru di sini adalah generasi muda yang cengeng, bermental tempe yang hanya bisa merengek-rengek, meminta tambahan jatah uang saku dan fasilitas-fasilitas lainnya yang bersifat praktis, pragmatis, dan instan, tanpa mau diimbangi dengan kerja keras.
Generasi biru ini adalah generasi atau serdadu-serdadu dari dinasti atau para penganut paham hedonisme yang dikatakan sebagai orang-orang yang berpenyakit wahan sebagaimana yang dimaksudkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, dari riwayat Bukhari dan Muslim. Orang-orang berpenyakit wahan atau langsung saja disebut sebagai para penganut paham hedonisme ini adalah orang-orang yang hanya berorientasi materi atau kemewahan dunia belaka. Ironinya, hanya karena keinginan memenuhi kehidupan hedonismenya yang penuh dengan gemerlapnya kemewahan duniawi, mereka rela menggapainya dengan menghalalkan segala cara.
Tidak mau keras, peras otak, dan peras keringat. Akan tetapi, maunya hanya yang bersifat serba instan, mudah, dan praktis. Penyakit-penyakit kejiwaan semacam itu tentu merupakan turunan dari penyakit wahan yang jelas-jelas sangat destruktif. Marak dan canggihnya teknologi informatika pun turut pula menjadi sumbangsih terbesar maraknya atau tumbuh suburnya generasi biru di kalangan muda atau pelajar pada khususnya.
Itu semua adalah ironi!
Padahal kalangan muda adalah pewaris tunggal dari serpihan surga yang bernama Nusantara ini. Serpihan surga yang salah urus sehingga belum mampu menyejahterakan segenap penghuni persada Nusantara ini. Lantas, apakah kita para pelajar ini akan turut menambah ironi negeri ini dengan menjadi generasi biru yang cengeng, bermental tempe, rapuh, mudah putus asa, mudah stress, lalu menghalalkan segala cara hanya karena ingin menjadi penyembah kaum atau para pemuja golongan hedonis?
Aktivis Cs Pasivis
Sebagaimana yang dikatakan John F. Kennedy, salah seorang presiden Negara Amerika Serikat yang mengatakan: Apa yang akan kau berikan kepada negara? Dan, atau pernyataan Bung Karno, salah seorang funding father negara kita yang mengatakan: Berikanlah aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku goncangkan dunia. Tentu, pernyataan-pernyataan itu jelas menunjukkan, baik secara tersurat maupun tersirat kalau sesungguhnya para pemangku jabatan negara itu sesungguhnya sangat membutuhkan sumbangsih secara nyata kepada para kalangan muda atau pelajar, demi dan untuk negara.
Persoalannya, sekarang, apa yang telah kita berikan kepada negara? Sumbangsih apa yang telah kita berikan kepada negara – demi dan untuk negara?
Pernyataan-pernyataan kedua negarawan terbesar negara itu sesungguhnya jelas menunjukkan kalau mereka sangat membutuhkan sumbahsih kaum muda atau pelajar secara nyata. Bukannya menjadi generasi biru yang cengeng dan bermental tempe yang sangat konsumerisme, atau yang dalam bahasa popularnya dikenal dengan sebutan mudah menjadi “korban iklan” itu. Lalu, di manakah posisi kita sekarang ini sebagai seorang pelajar? Apakah kita ini akan menjadi penerus dari generasi biru yang sangat pasif, dan setia menjadi penganut paham praktis, pragmatis yang serba instan? Ataukah, kita akan menjadi seorang aktivis sebagaimana yang diinginkan John F. Kennedy maupun Bung Karno untuk memberikan sumbangsih kita secara nyata demi dan untuk membesarkan negara?
Tentu, sudah bukan rahasia lagi kalau sesungguhnya kita, baik dari kalangan tua maupun muda, sebenarnya telah terbelah atau terbagi menjadi dua, yaitu; dari kalangan aktivis dan pasivis. Aktivis adalah anak kandung dari idealisme yang sangat ideologis. Seorang aktivis adalah seseorang yang rela bersusah payah demi dan untuk negara, atau demi dan untuk kemaslahatan ummat. Ia rela berkorban, dan rela mempertaruhkan apa pun yang ada dalam dirinya demi dan untuk negara. Dalam logical frame mereka yang ada hanyalah apa yang akan diberikan kepada negara – demi dan untuk negara?
Sedang, pasivis adalah anak kandung dari para penganut paham hedonistis yang sangat materialistis. Tidak mau capai dan juga tidak mau berpusing-pusing demi dan untuk memikirkan negara, atau demi dan untuk kemaslahatan ummat. Mereka sangat praktis dan pragmatis. Pola pikir mereka sangat sederhana kalau tidak ingin dikatakan sangat apatis atau pesimis. Kepekaan sosial pun kurang karena mereka sudah terbiasa dengan pola hidup atau pola pikir yang hanya mengedepankan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Atau, bisa juga dikatakan kalau mereka itu sangat egoistis dan individualistis.
Meski demikian, kalangan aktivis tidak boleh menjadi besar kepala, atau malah antipati terhadap kalangan pasivis. Sebaliknya, kalangan pasivis itu adalah mitra untuk diberdayakan agar mereka lebih memiliki kepekaan sosial. Syukur jika mereka rela dan mau turut menyumbangkan sesuatu yang dimilikinya untuk negara. Entah itu dengan tenaga, harta, pikiran, atau dengan ilmunya.
Ladang Jihad
Sebagai seorang aktivis, terlebih lagi sebagai kader IPM, maka kiranya tidaklah berlebihan kalau sekaranglah saatnya kita menentukan ladang jihad kita. Karena jihad adalah sebagai puncak dari keimanan dan keislaman kita. Akan tetapi, jihad di sini tentu bukanlah “jihad” sebagaimana yang dilakukan para teroris. Tentu saja bukan itu maksudnya. Melainkan jihad yang paling tepat sekarang ini adalah ghazwul fikr – atau perang intelektual yang memang sangat dibutuhkan dewasa ini. Apalagi musuh-musuh Islam dalam menggembosi atau memusuhi dinnullah al-Islam juga dilakukan dengan cara-cara yang cerdas, terstruktur, dan terorganisasi dengan sangat baik.
Bukankah dalam salah satu hadits Rasulullah Saw mengatakan kalau kejahatan yang terstruktur dan terorganisir dengan baik itu dapat mengalahkan kebenaran?
Pun demikianlah yang tengah terjadi dengan Dunia Islam pada umumnya. Oleh karena itu, cara-cara kita dalam melakukan jihad terhadap musuh-musuh Islam yang memang sangat cerdik (kalau tidak ingin dikatakan licik), dan terstruktur dengan baik, maka kita pun juga harus melakukan dengan skema atau sistem yang juga terstruktur dan terorganisir dengan baik sebagaimana yang dilakukan musuh-musuh Islam.
Walau kita yang nota bene baru sebatas pelajar yang masih ber-tholabul ‘ilmi, namun bukan berarti kita tidak bisa memberikan sesuatu demi dan untuk negara. Setidak-tidaknya kita bisa mempersiapkan diri kita untuk menjadi seorang calon pemikir – tentunya seorang pemikir muslim. Karena, sesungguhnya ladang jihad dengan menempuh jalan ghazwul fikr ini juga tidak kalah kerasnya dibandingkan dengan jihad yang dengan menggunakan fisik. Sebaliknya, jihad dengan ghazwul fikr ini tidak jarang malah sering bisa menundukkan musuh-musuh Islam dengan cara-cara yang sangat cerdas dan diplomatis.
Sebagai contoh peristiwa Piagam Madinah. Rasulullah Saw beserta sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirinnya, ternyata mampu menjadi pucuk pimpinan di Madinah sewaktu Rasulullah Saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Padahal di Madinah sana pada waktu itu terdapat delapan Bani Yahudi yang sangat berpengaruh. Namun, nyatanya, Rasulullah Saw dapat menjadi pemimpin sekaligus juga mengalahkan mereka dengan cara-cara yang sangat cerdas dan diplomatis.
Di sinilah salah satu letak pentingnya jihad bil ghazwul fikr. Karena kita bisa mengalahkan musuh-musuh kita bukan dengan cara-cara kekerasan fisik, melainkan dengan kemampuan intelektual kita. Entah itu dengan bil kalam maupun bil qalam.
Nuun, wal qalami wamaa yasthuruun.
(Penulis adalah sekretaris bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Wonosobo periode 2012-2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar