Kamis, 29 Mei 2014

Surat Sapa untuk Suamiku

Nomor   : 02/SPH-HK/V/2014
Perihal   : Hanya Terjarak BUKAN Terpisah

Assalamu'alaikum...
Abi...
Suamiku yang selalu hadir dalam setiap rinduku...
Umi harap, Abi membaca surat ini dengan suasana nikmat berkah dariNya dalam suka maupun duka...

Abi...
Melanjutkan surat yang pertama dari Umi...
Surat ini tertulis pada pukul tepat se usai sholat tahajud...
Surat ini hendak menyapamu yang berada nun jauh di seberang sana...

Abi...
Suamiku yang insyaAllah seorang imam yang mempunyai iman di keluarga kecil kita...

Pagi ini dingin menusuk robekkan ber titik-titik pori penuh duri...
Umi basuh diri ini dengan kesucian berlapis air agar pori kembali terobati...
Umi buka lembar sajadah di tempat dimana kita biasa berjama'ah, bersama...
Takbir terlantunkan...
Berusaha khusyuk...
Penuh khidmat...
Dalam sujud mengingatkan kebersamaan kita...
Cinta kasih yang di persatukan olehNya tetap dan terus menghamba...
Dalam do'a malam Umi, Umi sematkan do'a untukmu, suamiku...
Do'a yang 'kan terpanjatkan kepada seseorang yang Umi nantikan kehadiran pulangnya...

Abi...
Berharap kau tak meneteskan air mata kala membaca surat ini...

Abi...
Hapus air matamu...
Seorang Kapten harus kuat...
'Kau berada di seberang sana pastilah merindukanku...
Apalagi, Abi adalah nahkoda dalam perahu kita...
Umi sebagai penunjuk jalannya...
Simpan air mata itu...
Kobarkan kembali semangatmu, suamiku...

Abi...
Suami sayang...
Teringat kala kita bersama...
Berbagi canda tawa...

Abi...
Umi rindu akan hari-hari sepi tanpa hadirmu...

Biasanya...

Kala pagi menyapa, Abi sambut Umi dengan senyuman dan kecupan hangat, begitu pula sebaliknya...

Sebelum menginjakkan kaki ke lantai, kita sempatkan becanda bersama, penuh goda...
Berdiskusi bersama...
Bercerita...
Dan berbagi kasih...
Menyimpan benihmu disini, di rahim yang kuat ini...

Rutinitas yang tak 'kan terhapus oleh dimensi masa...

Menyiapkan air untuk mandimu adalah tugasku, sayang...
Namun terkadang, dengan sigapnya Abi siapkan itu untuk Umi, istrimu...
Telah ku siapkan baju gantimu di tempat biasa...
Sembari menantimu mandi, Umi siapkan segelas air putih/susu/teh tawar ke sukaanmu...
Seperti biasa pula...
Rampung mandimu, selesai ganti pakaimu, Umi rapikan bajumu...
Dengan kelembutan, tangan ini lincah menyapamu...
Selalu ada gombal rayu saat-saat itu...

Tak lupa menghamba bersama...
Berdo'a kepadaNya...

Hmmm...

Rutinitas lain adalah Umi mencium tangan abi, begitu pula sebaliknya...
Abi cium ke dua pipi ini...
Abi cium ke dua mata ini...
Abi cium kening ini...
Abi lekatkan bibir ini sembari menepukkan hidung kita bersama...
Begitu pula sebaliknya...

Ahhh...

Rasanya semua rutinitas tiada usainya bila tertulis di surat kali ini, sayang...

Ku terima suratmu
Dan ku baca
Dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu
Bersama lagi

Lagu itu yang kau dendangkan kala menyapaku di telepon...
Seakan menambah rindu yang ada...
Tanpamu, sendiri sepi di sini...

Kau pun menyanyikan lagu tembang kenangan yang biasa kita dendangkan...
Seakan mendakan betapa dalam rindumu yang tersimpan...

Suami sayang...
Tetaplah bersemangat di seberang sana...
Umi disini baik-baik saja...
Allah bersama Umi...
Abi jaga hati dan diri baik-baik...
Seperti yang selalu Abi katakan...
Abi selalu disini...
Di hati Umi...

Pergilah kasih
Kejarlah ke inginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah
Demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala ke inginamu, Kapten...

Kita hanya terjarak oleh ruang dan waktu, sayang...
Kita tak terpisah...
Kita berada pada dimensi yang sama...
Kita berada di bawah teduh langit yang sama...
Kita ber pijak di atas ganah yang sama...
Pelataran langit biru menyambut...
Semesta meneduhkan kita...

Dari istrimu yang menantikan hadirmu... ^__^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar