"Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu
Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang'e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati
Ndek semono janjimu disekseni
Mego kartiko keiring roso tresno asih
Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Miraring swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari"
Kali ini semesta meneduhkanku dengan buaian tembang Yen Ing Tawang Ono Lintang... Bukan masalah lagu yang ter kembang... Melainkan potret masa yang terkenang... Tembang yang di gemari oleh seorang Bapak... Seorang yang selalu di rindu oleh putra benihnya... Seorang yang selalu di rindu di atas gubuk tua yang tlah goyah... Gubuk yang selalu menjadi tempat ia pulang... Di mana latar luar tampak hijau menyegar dalam hirup tiap detiknya... Di mana terdapat sungai bening mengalir deras dengan tenang menyimpan gambar kenang yang jua ikut mengalir... Di mana, di gubuk itu pula terdapat seorang Ibu yang terlihat darah juangnya... Terdapat keriput mengerut di wajahnya... Menandakan bentuk perjuangannya...
Hmm... Entah mengapa... Gambaran masa itu melintas dengan cepat dalam memori ini... Seakan gambaran itu mengingatkanku dengan seseorang yang menaruh baktinya untuk ke dua orang tuanya... Seorang Bapak yang telah tiada... Yang mem favorite kan tembang itu... Dan seorang Ibu yang tak luput mendapatkan suapan dari tangan anaknya ketika ia pulang...
Ahhh... Hanya lamunan... Saatnya mengerdipkan mata dan mengumpulkan nyawa... Semesta meneduhkanku... :')
^__^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar