Inilah kesungguhan rasa,,,
Ijinkan aku menyayangimu,,,
Yang terlihat kadang tak lebih penting dari yang tersembunyi...
Apa yang di rasa kadang lebih penting dari dari apa yang di baca...
Cintaku padamu tak bisa di baca tapi bisa di rasa...
Rinduku padamu tak bisa di lihat namun jelas adanya...
Tak masalah bila kau tak merasa...
Aku tetap mencintaimu...
Tak peduli andai kau tak pahami...
Bagiku tetap berarti...
Semoga engkau terus-menerus di cintai oleh Allah...
Yang tersebab oleh-Nya engkau mencintaiku...
"Bertahan... Sebentar lagi... Sampai kau Ikat Diriku..."
Kala janji suci terikrarkan... Serasa ikatan yang terikat dengan do'a pun terjawab sudah... Menyempurnakan separo agama... Bersama tangan yang 'kan mengantarkan diriku ke surga... Ini lah jawaban dari 'nikahi atau sudahi, halalkan atau tinggalkan'... Kini kita bersama saling memantaskan diri... Semoga Allah memberkahi... Aamiin... :')
Nomor : 04/SPH-HK/VI/2014
Perihal : Do'aku untukmu, sayang...
"Assalamu'alaikum... Semoga tangan yang 'kan membawaku ke surga membaca surat ini dalam lindunganNya dan dalam keadaan sehat dengan nikmatNya, aamiin... Suamiku yang ku sayangi... Menemanimu adalah kewajibanku menjadi seorang istri... Tak peduli bagaimana masa lalumu... Dimana karena masa lalu itu kau bisa petik hikmahnya hingga kau menjadi kau yang kini dan mungkin kau yang akan datang... Menemanimu adalah hal yang terindah... Kita melangkah bersama... Mungkin bukan melangkah dari NOL... Namun melangkah dari titik dimana kita berpijak dan 'kan melangkah... Suamiku... Tataplah mataku... Genggam erat tanganku dan letakkan di dadamu... Pandanglah mataku sesuka hatimu... Bila kau ingin yang lebih nyaman, peluklah diriku... Tanganku kan membelaimu dan kan menyenangkanmu... Suamiku, aku tak ingin menjadi seorang istri yang tak bisa menemani dan membantumu untuk berproses dan berprogres... Suamiku... Aku ingin dan kan selalu berusaha berada di sampingmu... Dimanapun kau berada, do'aku mengikatmu... Suamiku... Kini kita berpijak ditanah paling bawah dengan kualitas yang kan menuju ke tingkat selanjutnya... Suamiku, mari kita melangkah bersama... Semangatlah sayang... Aku ada untukmu... Bangkitlah sayangku... :)
Jangan Ada Angkara
"Bersiri terpaku menengadahkan diri ke pelataran langit... Yang tampak tak lain langit malam yang kelam... Bintang tiada berserak seperti kala itu... Bulan pun tak menampakkan padang dirinya... Yang tampak ialah cahaya lampu yang semakin meredup... Hela nafasku memanjang menyambut keheningan di jiwa... Seakan tinggal dedaunan yang terbang terhempas amarah angin menubruk beringin... Ada yang lain... Ada yang lain dengan malamku... Dan aku pun duduk bersama angin malam... Ingin rasanya melukis malam dengan penaku... Agar tampak gambar yang ku rindu... Ingin ku nikmati malam ini dengan dimensi yang lalu... Bahkan panjang kelam ku nikmati hingga fajar menyingsing... Namun takutku semakin akut... Akankah esok hari masih harus ku lihat langit biru yang tak lagi membentangkan pelatarannya yang sama.... Akan esok hari masih harus ku lihat biru langit yang tak lagi membirukan diri ini seperti hari yang lalu... Bahkan tak kuasa ku menyambut senja bersama meganya... Seakan merahnya menandakan amarah... Angkara murka menghantam menggebuk lunturkan hati ini... Seakan tiada lagi daya ku goreskan pena di kanvas yang telah berbeda...
Inginku pelataran langit tetap menjadi kanvas biru yang kan menyatu dengan gores penaku... Ingin ku lukiskan kembali masa yang lalu... Kala langit tiada lalai menghangatkan diri ini... Rindu membiru merujum ulu..."
Saat hati tak lagi bernyanyi
Mentari seakan kian sembunyi
Kutunggu kau tak datang jua menyapaku
Kala badai gelombang mengguncang
Kandaskan hatiku yang kian bimbang
Kucoba teguhkan harapan yang tersisa
'Tuk cintamu
Jangan lagi ada angkara
Demi damai jiwaku
Jangan lagi ada prasangka
Yang 'kan menyiksamu
Demi cinta kita (dan resahkan jiwa)
Begitu banyak jalan berliku
Jangan luruhkan tegarnya hatimu
Dan kuatkan kembali setiap langkahmu
Bersamaku
Jangan lagi ada angkara
Demi damai jiwaku
Jangan lagi ada prasangka
Yang 'kan menyiksamu
Demi cinta kita (dan resahkan jiwa)
Biarkan damai menyapa jiwa yang luka
Biarkan cinta satukan sukma
Dibatas kota ini ku menatap wajahmu
Perpisahan ini membuat lika dihati
Ingin ku berlari namun tak kuasa diriku
Engkau menangis dalam pelukanku
Sendiri kau terpaku melepas kepergianku
Air matamu berlinang membasahi pipi
Seakan kau sesali perpisahan ini
Janganlah kau sesali
Janganlah kau tangisi
Aku pergi untuk kembali lagi
Hapuslah air matamu
Hapus luka hatimu
Nantikan ... aku dibatas kota ini
Pelabuhan jadi saksi ... dermaga tua menanti
Disaat engkau berjanji tuk kembali lagi
Dipelabuhan melawai ku lepas dirimu kasih
Kuharap engkau kembali untukku lagi
"Mengitari dua kota itu... Hingga akhirnya aku terdampar di batas antara dua kota itu seorang diri... Dimana hilangnya dirinya... Kemana perginya... Tlah ku cari di semua tempat dimana kami pernah bersama... Namun ternyata tiada... Seakan nafas ini menciut... Pening menghujam menggembok akal... Tiada kuasa lagi jantung berdetak... Sunyi sendiri ter tusuk dinginnya milenia langit... Semesta meneduhkanmu..."
Kamis-Jum'at, 5-6 Juni 2014
Tiap malam ku sendiri
Menanti datangnya hari
Yang engkau janjikan
Setia ku menunggu
Walau pun penuh dengan derita
Air mata jadi saksi
Gelisah inggat dirimu
yang selalu datang di dalam mimpiku
Kau peluk aku di dalam cinta
Bilakah kau pulang kurindu padamu Ingin ku peluk erat dirimu
biar malam ini tiada air mata
Yang menghantui dalam hidupku