Sabtu, 31 Mei 2014

Layang Kangen SH

Memutar rekaman lagu yang Abi nyanyikan kala itu dengan penuh penghayatan... Bahkan air mata tak mampu bila di bendung terlalu lama... Lagu spesial untuk diri ini.... Dikala Abi pergi... Di kala Abi ga bisa telepon... Di kala Abi belum sempat balas SMS Umi... :')

"Lagu spesial buat Umi... Di waktu Abi pergi... Di waktu Abi ga bisa telepon... Di waktu Abi belum sempat membalas SMS Umi... Judulnya 'Layang Kangen' punya 'Didi Kempot'... Abi nyanyikan spesial buat Umi..."

Layangmu tak tompo wingi kuwi
Wis tak woco opo karepe atimu
Trenyuh ati iki moco tulisanmu
Ra kroso netes eluh ning pipiku

Umpomo tanganku dadi suwiwi
Iki ugo aku mesti enggal bali
Ning kepriye maneh mergo kahananku
Cah ayu entenono tekaku

Ra maido sopo wong sing ora kangen
Adoh bojo pingin turu angel merem
Ra maido sopo wing sing ora trenyuh
Ra kepethuk sawetoro pingin weruh
Percoyo aku, kuatno atimu
Cah ayu entenono tekaku

^__^ 1 Juni 2014 ^__^

Kamis, 29 Mei 2014

Surat Sapa untuk Suamiku

Nomor   : 02/SPH-HK/V/2014
Perihal   : Hanya Terjarak BUKAN Terpisah

Assalamu'alaikum...
Abi...
Suamiku yang selalu hadir dalam setiap rinduku...
Umi harap, Abi membaca surat ini dengan suasana nikmat berkah dariNya dalam suka maupun duka...

Abi...
Melanjutkan surat yang pertama dari Umi...
Surat ini tertulis pada pukul tepat se usai sholat tahajud...
Surat ini hendak menyapamu yang berada nun jauh di seberang sana...

Abi...
Suamiku yang insyaAllah seorang imam yang mempunyai iman di keluarga kecil kita...

Pagi ini dingin menusuk robekkan ber titik-titik pori penuh duri...
Umi basuh diri ini dengan kesucian berlapis air agar pori kembali terobati...
Umi buka lembar sajadah di tempat dimana kita biasa berjama'ah, bersama...
Takbir terlantunkan...
Berusaha khusyuk...
Penuh khidmat...
Dalam sujud mengingatkan kebersamaan kita...
Cinta kasih yang di persatukan olehNya tetap dan terus menghamba...
Dalam do'a malam Umi, Umi sematkan do'a untukmu, suamiku...
Do'a yang 'kan terpanjatkan kepada seseorang yang Umi nantikan kehadiran pulangnya...

Abi...
Berharap kau tak meneteskan air mata kala membaca surat ini...

Abi...
Hapus air matamu...
Seorang Kapten harus kuat...
'Kau berada di seberang sana pastilah merindukanku...
Apalagi, Abi adalah nahkoda dalam perahu kita...
Umi sebagai penunjuk jalannya...
Simpan air mata itu...
Kobarkan kembali semangatmu, suamiku...

Abi...
Suami sayang...
Teringat kala kita bersama...
Berbagi canda tawa...

Abi...
Umi rindu akan hari-hari sepi tanpa hadirmu...

Biasanya...

Kala pagi menyapa, Abi sambut Umi dengan senyuman dan kecupan hangat, begitu pula sebaliknya...

Sebelum menginjakkan kaki ke lantai, kita sempatkan becanda bersama, penuh goda...
Berdiskusi bersama...
Bercerita...
Dan berbagi kasih...
Menyimpan benihmu disini, di rahim yang kuat ini...

Rutinitas yang tak 'kan terhapus oleh dimensi masa...

Menyiapkan air untuk mandimu adalah tugasku, sayang...
Namun terkadang, dengan sigapnya Abi siapkan itu untuk Umi, istrimu...
Telah ku siapkan baju gantimu di tempat biasa...
Sembari menantimu mandi, Umi siapkan segelas air putih/susu/teh tawar ke sukaanmu...
Seperti biasa pula...
Rampung mandimu, selesai ganti pakaimu, Umi rapikan bajumu...
Dengan kelembutan, tangan ini lincah menyapamu...
Selalu ada gombal rayu saat-saat itu...

Tak lupa menghamba bersama...
Berdo'a kepadaNya...

Hmmm...

Rutinitas lain adalah Umi mencium tangan abi, begitu pula sebaliknya...
Abi cium ke dua pipi ini...
Abi cium ke dua mata ini...
Abi cium kening ini...
Abi lekatkan bibir ini sembari menepukkan hidung kita bersama...
Begitu pula sebaliknya...

Ahhh...

Rasanya semua rutinitas tiada usainya bila tertulis di surat kali ini, sayang...

Ku terima suratmu
Dan ku baca
Dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu
Bersama lagi

Lagu itu yang kau dendangkan kala menyapaku di telepon...
Seakan menambah rindu yang ada...
Tanpamu, sendiri sepi di sini...

Kau pun menyanyikan lagu tembang kenangan yang biasa kita dendangkan...
Seakan mendakan betapa dalam rindumu yang tersimpan...

Suami sayang...
Tetaplah bersemangat di seberang sana...
Umi disini baik-baik saja...
Allah bersama Umi...
Abi jaga hati dan diri baik-baik...
Seperti yang selalu Abi katakan...
Abi selalu disini...
Di hati Umi...

Pergilah kasih
Kejarlah ke inginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah
Demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala ke inginamu, Kapten...

Kita hanya terjarak oleh ruang dan waktu, sayang...
Kita tak terpisah...
Kita berada pada dimensi yang sama...
Kita berada di bawah teduh langit yang sama...
Kita ber pijak di atas ganah yang sama...
Pelataran langit biru menyambut...
Semesta meneduhkan kita...

Dari istrimu yang menantikan hadirmu... ^__^

Surat Rindu untuk Suamiku

Nomor  : 01/SPH-HK/V/2014
Perihal  : Rindu Biru

Assalamu'alaikum...
Abi, bagaimana kabar Abi?
Semoga Abi membaca surat ini dengan keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah...
Aamiin...

Abi...
Ingatkah abi kala pertama kita jumpa?
Dalam sebuah forum resmi ikatan kita di pertemukan...

Abi...
Kala itu kita tak saling kenal...
Bahkan, saat Abi datang dengan segerombol orang, Umi hanya menatapmu kosong...
Tanpa RASA!

Abi...
Pertemuan kite begitulah singkatnya...
Pun tak kenal...
Pun tak sapa...

Abi...
Pertemuan kita berlanjut tanpa ke sengajaan pula...
Kita kembali berjumpa dalam sebuah forum...
Namun, kala itu, Umi sedang di rundung masalah...
Bak di hantam milenia langit masa itu...

Abi...
Malam semakin terang...
Bintang tak henti benderang...
Walau dalam ke polosan tajam mata, hanya satu bintang yang terlihat...

Abi...
Melihatmu tiada rasa...
Meski Abi bolak-balik sibuk dengan urusan Abi...
Umi masih terdiam...
Terbungkam!

Abi...
Tak Umi sangka, suara Abi mengejutkan hati ini...
abi menunjukkan dimana Umi bisa melihat bintang lebih banyak berserak...

Abi...
Saat itu Umi teringat sesuatu...
Beberapa saat sebelum itu, Abi dan Umi chattingan di Facebook...
Yang lebih memalukan, karena rasa penasaran Umi, di depan umum Umi menanyakan "mana sih yang namanya bla bla bla"...
Dan kala itu ada dirimu...

Pertemuan singkat... :')

Komunikasi berlanjut...
Dan masih BIASA!

Namun ternyata, komunikasi itu terjalin semakin erat...

Berawal dari beberapa lagu, tembang kenangan...

Terasa nyaman...
Apalagi, belum lama itu, Umi sedang di landa ke kecewaan...
Abi mungkin tau...

Rasa di antara kita semakin tajam...
Bahkan harapan muncul sekian di pelataran...

Bahkan, kita terbuka dengan masa lalu yang pernah kita alami...

Namun, tau kah kau, Sayang?

Hati ini teriris kala membaca pesan dari seseorang di Handphone mu...
Kau mungkin tau... :')

Isak tangis membiru kala itu...
Seakan harapan pupus...
Sakit... :'(

Namun, Umi masih ber pegang dengan komitmen Umi...
Mengikatmu dengan DO'A...

Hmmm...

Waktu terus berjalan...
Umi dan Abi saling mengisi waktu...
Cepat pesat kilat Abi mengenalkan Umi di keluarga Abi...
Begitu pula sebaliknya...

Singkat cerita...

Ingatkah Abi...
Sawah membentang di bawah terang bulan berselimut kabut itu?

Ingatkah Abi...
Pelataran alun-alun yang mengayunkan palung itu?

Ingatkah Abi...
Ruang dimana kita ber padu rindu?

Ingatkah Abi...
Bangku tua dan terminal Mandala tempat kita bercerita?

Ingatkah Abi...
Pagi siang malam bersama sastra?

Ingatkah Abi...
Dengan buku, koin, stempel, sticker, dan pin?

Ingatkah Abi...
Dengan KeduSusu?
Siomay Hitam?
Roti?
Coklat?
Bubur Kacang Ijo?
Bakso Krikil?
Bebek Goreng?
Ayam goreng?
Mie Ayam?
Es Jeruk?
Jus?
SEMUA!

Ingatkah Abi...
kala janji terikrarkan....
SAH...

Ingatkah Abi...
Kala kita bernyanyi bersama...
Meneteskan air mata bersama?

Ingatkah Abi...
Kala kita mencari perlengkapan bayi?
Bayi yang selalu kita nantikan kehadirannya?
Ranjang bayi...
Tempat duduk bayi...
Tempat makan bayi...
Alat bantu jalan bayi...
Tempat mandi dan renang bayi...
Mainan bayi...
Baju celana sepaty bayi...
Dan lain-lain...
Hingga Abi peragakan mengangkat dan menggendong bayi dari ranjang di tempat umum... :')

Ingatkah saat Umi sakit?
Ingatkah saat Abi sakit?
Abi mungkin tau...
Kita saling merawat dan menjaga...
Kita selalu bergandeng bersama...

Ingatkah Abi...
Saat kita berdua mengisi kajian bersama?

Ingatkah Abi...
Saat kita bertengkar?
Berdua?
Suka?
Duka?

Kini...
Kau harus pergi menempuh citamu untuk kita...
Tembang layang kangen dan di batas kota ini menjadi saksi...

Umi terus menanti...
Menanti Abi kembali disini...
Bersama buah cinta kita...
Bersama kenangan yang selalu menjadi rinduan...

Umi akan selalu mendukung Abi...
Bersama disamping Abi...
Mendorong daru belakang untuk Abi...
Menggandeng bersama...
Dalam suka maupun duka...

Terimakasih, suamiku...
Hadirmu, menjadi semangat biru baru untukku...

Dari istrimu yang selalu merindukanmu...

^__^

Di Batas Kota Ini

di batas kota ini ku menatap wajahmu
perpisahan ini membuat luka di hati
ingin ku berlari namun tak kuasa diriku
engkau menangis dalam pelukanku

* sendiri kau terpaku melepas kepergianku
air matamu berlinang membasahi pipi
seakan kau sesali perpisahan ini

janganlah kau sesali, janganlah kau tangisi
aku pergi untuk kembali lagi
hapuslah air matamu, hapus luka hatimu
nantikan aku di batas kota ini

** (pelabuhan jadi saksi, dermaga tua menanti
di saat engkau berjanji tuk kembali lagi
di pelabuhan melawai ku lepas dirimu kasih
ku harap engkau kembali untukku lagi)

^__^

Senin, 26 Mei 2014

Pergi Untuk Kembali

Langit...
Ingatkah kau kala malam itu kita bersama?
Kita duduk berdua di bawah pelataran bintang...
Berserak seakan menempatkan bulan dalam pangkuannya...
Kita duduk berdua di antara hening malam... Cahaya lampu malam pun bak kunang-kunang mengitari kita...

Langit...
Kala itu kita duduk di antara hamparan sawah yang luas...
Ingatkah kau kala kita berdenrang bersama dalam kedamaian jiwa?

Langit...
Malam itu seakan rindu ter urai...
Terobati dengan hangat kasihmu...
Sembuh oleh ramuan nadamu...

Langit...
Kini kau akan pergi...
Walau sekejap saja, namun rindu yang ter urai itu kan kembali menjadi satu...
Membukit dan menggunung...
Semakin tergumpal...

Langit...
Kau kan pergi...
Pergi untuk kembali...
Kembali di sini...
Merajut tenun cinta kasih yang robek karena rindu...
Melunasi janji suci kita...

Langit...
Ingin rasanya...
Mengulang masa itu...
Dimana kau menitipkan benih sang juang disini...

Langit...
Ku nantikan kau kembali...
Membawa sepucuk nasi masa depan kita...

Kembalilah... Kami menanti...

^sastra^

Sabtu, 24 Mei 2014

Yen Ing Tawang Ono Lintang

"Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu

Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang'e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati

Ndek semono janjimu disekseni
Mego kartiko keiring roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Miraring swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari"

Kali ini semesta meneduhkanku dengan buaian tembang Yen Ing Tawang Ono Lintang... Bukan masalah lagu yang ter kembang... Melainkan potret masa yang terkenang... Tembang yang di gemari oleh seorang Bapak... Seorang yang selalu di rindu oleh putra benihnya... Seorang yang selalu di rindu di atas gubuk tua yang tlah goyah... Gubuk yang selalu menjadi tempat ia pulang... Di mana latar luar tampak hijau menyegar dalam hirup tiap detiknya... Di mana terdapat sungai bening mengalir deras dengan tenang menyimpan gambar kenang yang jua ikut mengalir... Di mana, di gubuk itu pula terdapat seorang Ibu yang terlihat darah juangnya... Terdapat keriput mengerut di wajahnya... Menandakan bentuk perjuangannya...

Hmm... Entah mengapa... Gambaran masa itu melintas dengan cepat dalam memori ini... Seakan gambaran itu mengingatkanku dengan seseorang yang menaruh baktinya untuk ke dua orang tuanya... Seorang Bapak yang telah tiada... Yang mem favorite kan tembang itu... Dan seorang Ibu yang tak luput mendapatkan suapan dari tangan anaknya ketika ia pulang...

Ahhh... Hanya lamunan... Saatnya mengerdipkan mata dan mengumpulkan nyawa... Semesta meneduhkanku... :')

^__^

Kamis, 22 Mei 2014

Terjarak BUKAN Terpisah

"Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi... Harus kah aku lari dari kenyataan ini... Pernah ku mencoba 'tuk sembunyi... Namun senyummu tetap mengikuti..."

    Begitulah lirik lagu Iwan Fals yang selalu ku putar tiap waktu dimana  gambaran sebuah masa mulai menghampiri. Di mana layar lukisan menancap di putaran hitam pandangan. Seakan tancapan itu memutar menusuk gambar pandang mata. Bukan hanya mata. Bahkan tancapan itu menyayat hati yang hanya segumpal daging. Mudah rapuh. Dan mudah terkoyak oleh tajamnya bayangan itu.
    Ahh... Entahlah. Bayangan itu hadir di tiap sela masa ku. Bayangan seseorang yang tak jua berhenti berputar di sini. Seseorang yang ku sematkan dalam setiap do'aku. Seseorang yang ku ikat dalam sujud panjangku. Seseorang yang jauh di sana. Ber pijak di atas tanah yang tak sama. Namun berada di bawah naungan langit yang sama. Aku dan dia tak terpisah dalam ikatan do'a. Aku dan dia hanya di bentangkan oleh jarak. Jarak yang menguji ke sabaran rindu yang ber padu. Di bawah langit biru semesta membentangkan rindu. HANYA TERJARAK. BUKAN TERPISAH. Syukur, sabar, ikhlas, tawakal. ^__^

| Wonosobo, Mei 2014 |

Minggu, 18 Mei 2014

Peran Pelajar Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


"Maraknya Generasi “Biru” Di Kal Pelajar"

Oleh: Selly Puji Hartanto

Sejarah telah membuktikan, Indonesia adalah bangsa besar. Indonesia atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Nusantara adalah salah satu dari tiga mercusuar dunia yang menjadi sentra peradaban dunia di masa dulu. Pada waktu dulu, Bangsa Romawi atau Bangsa Eropa masih bar-bar, Benua Amerika belum diketemukan oleh Peter Columbus, Australia masih menjadi benua “kosong” yang hanya dihuni oleh orang-orang Aborijin, dan benua Afrika sama sekali belum mengalami kemajuan, ternyata yang menjadi pusat peradaban dunia pada waktu itu adalah Asia.
Asia adalah simbol peradaban dunia pada waktu itu. Asialah yang menjadi mercusuar dunia pada waktu itu. Dan, Indonesia adalah menjadi salah satu dari segi tiga emas mercusuar dunia pada waktu itu. Di Asia bagian barat dikuasai oleh Kerajaan Mesopotamia dan Babylonia, di bagian Asia timur dikuasai oleh Kekaisaran China, dan ternyata di bagian Asia selatan atau Asia tenggara ini dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, seperti; Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singosari, Mataram, Kerajaan Demak, dan lain sebagainya. Merekalah yang nota bene menjadi penguasa-penguasa Nusantara, simbol dari salah satu dari tiga mercusuar dunia pada waktu itu.
Tentu Nusantara pada waktu itu sangat kuat. Baik secara militer, politik, budaya maupun ekonomi. Jika Nusantara pada waktu itu tidak kuat, tentu akan mudah sekali aneksasi oleh Kekaisaran China yang juga dikenal memiliki kekuatan militer yang sangat kuat. Namun, nyatanya, pada waktu itu sejarah juga telah membuktikan kalau Kekasiaran China yang sangat kuat itu tidak pernah mampu menundukkan Nusantara atau Indonesia ini. Hal ini, jelas membuktikan kalau Nusantara pada waktu itu sangat kuat.

“Generasi Biru”
Satu lagi yang perlu dicatat, Indonesia adalah dikenal sebagai serpihannya surga. Ini artinya apa? Tentu yang namanya serpihan surga adalah serpihan atau gambaran kecil dari berjuta-juta kenikmatan dan keindahan surga. Atau, pendek kata, Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi. Indonesia adalah negara yang penuh dengan kemakmuran. Tentu bukan hanya karena keindahan alamnya yang memang sudah diakui dunia, melainkan juga iklim tropisnya yang sangat bersahabat dengan segenap para penghuni persada nusantara. Belum lagi dengan sumber daya alamnya yang melimpah ruah. Kekayaan hutan yang menjadi paru-paru dunia, kayu, rempah-rempah yang menyebabkan Bangsa Eropa betah menjajah Nusantara, kekayaan lautan, migas, tambang emas seperti Freeport di Papua, timah di Bangka Belitung, dan sumber daya alam-sumber daya alam lainnya yang ada di seluruh penjuru Nusantara ini benar-benar membuktikan kalau Nusantara atau Indonesia ini memang sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi.
Seperti digambarkan oleh Koes Plus, group band “jadul” alias group band jaman dulu yang mengatakan lautan Indonesia itu bukan lautan tapi kolam susu. Bumi Nusantara juga dikatakan seperti: tongkat dan kayu kan jadi tanaman. Gambaran-gambaran itu semua apa artinya kalau bukan sebenarnya membuktikan kalau Nusantara ini memang benar-benar merupakan serpihannya surga yang memang terbukti penuh dengan kemakmuran.
Namun…
Sekarang ini, yang terjadi justru penuh dengan ironi. Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini, ternyata belum mampu menyejahterakan segenap masyarakat yang ada di segenap penjuru Nusantara hanya karena salah urus. Banyak aset-aset atau sumber daya alam kita, seperti; migas, timah, dan emas yang justru malah dikuasai oleh negara asing. Hal ini tentu saja sangat ironi. Anti klimaks atau anti tesis dari gambaran serpihan surga yang penuh dengan kemakmuran.
Salah urus dalam mengelola sumber daya sumber daya alam yang ada di Nusantara ini tentu bukan hanya akan menyebabkan kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan masyarakatnya, melainkan juga secara psycho-sociology malah sekaligus juga akan menumbuh kembangkan “generasi biru” di kalangan penerus bangsa ini, khususnya pelajar. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan generasi biru, tentu bukannya kader-kader IPM yang terhormat maupun generasi Muhammadiyah pada umumnya. Akan tetapi, generasi biru yang dimaksudkan di sini hanyalah sekedar meminjam istilah dari Slank, salah satu group band terkenal di negeri ini.
Lebih jauh, yang penulis maksudkan dengan generasi biru di sini adalah generasi muda yang cengeng, bermental tempe yang hanya bisa merengek-rengek, meminta tambahan jatah uang saku dan fasilitas-fasilitas lainnya yang bersifat praktis, pragmatis, dan instan, tanpa mau diimbangi dengan kerja keras.
Generasi biru ini adalah generasi atau serdadu-serdadu dari dinasti atau para penganut paham hedonisme yang dikatakan sebagai orang-orang yang berpenyakit wahan sebagaimana yang dimaksudkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, dari riwayat Bukhari dan Muslim. Orang-orang berpenyakit wahan atau langsung saja disebut sebagai para penganut paham hedonisme ini adalah orang-orang yang hanya berorientasi materi atau kemewahan dunia belaka. Ironinya, hanya karena keinginan memenuhi kehidupan hedonismenya yang penuh dengan gemerlapnya kemewahan duniawi, mereka rela menggapainya dengan menghalalkan segala cara.
Tidak mau keras, peras otak, dan peras keringat. Akan tetapi, maunya hanya yang bersifat serba instan, mudah, dan praktis. Penyakit-penyakit kejiwaan semacam itu tentu merupakan turunan dari penyakit wahan yang jelas-jelas sangat destruktif. Marak dan canggihnya teknologi informatika pun turut pula menjadi sumbangsih terbesar maraknya atau tumbuh suburnya generasi biru di kalangan muda atau pelajar pada khususnya.
Itu semua adalah ironi!
Padahal kalangan muda adalah pewaris tunggal dari serpihan surga yang bernama Nusantara ini. Serpihan surga yang salah urus sehingga belum mampu menyejahterakan segenap penghuni persada Nusantara ini. Lantas, apakah kita para pelajar ini akan turut menambah ironi negeri ini dengan menjadi generasi biru yang cengeng, bermental tempe, rapuh, mudah putus asa, mudah stress, lalu menghalalkan segala cara hanya karena ingin menjadi penyembah kaum atau para pemuja golongan hedonis?

Aktivis Cs Pasivis
Sebagaimana yang dikatakan John F. Kennedy, salah seorang presiden Negara Amerika Serikat yang mengatakan: Apa yang akan kau berikan kepada negara? Dan, atau pernyataan Bung Karno, salah seorang funding father negara kita yang mengatakan: Berikanlah aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku goncangkan dunia. Tentu, pernyataan-pernyataan itu jelas menunjukkan, baik secara tersurat maupun tersirat kalau sesungguhnya para pemangku jabatan negara itu sesungguhnya sangat membutuhkan sumbangsih secara nyata kepada para kalangan muda atau pelajar, demi dan untuk negara.
Persoalannya, sekarang, apa yang telah kita berikan kepada negara? Sumbangsih apa yang telah kita berikan kepada negara – demi dan untuk negara?
Pernyataan-pernyataan kedua negarawan terbesar negara itu sesungguhnya jelas menunjukkan kalau mereka sangat membutuhkan sumbahsih kaum muda atau pelajar secara nyata. Bukannya menjadi generasi biru yang cengeng dan bermental tempe yang sangat konsumerisme, atau yang dalam bahasa popularnya dikenal dengan sebutan mudah menjadi “korban iklan” itu. Lalu, di manakah posisi kita sekarang ini sebagai seorang pelajar? Apakah kita ini akan menjadi penerus dari generasi biru yang sangat pasif, dan setia menjadi penganut paham praktis, pragmatis yang serba instan? Ataukah, kita akan menjadi seorang aktivis sebagaimana yang diinginkan John F. Kennedy maupun Bung Karno untuk memberikan sumbangsih kita secara nyata demi dan untuk membesarkan negara?
Tentu, sudah bukan rahasia lagi kalau sesungguhnya kita, baik dari kalangan tua maupun muda, sebenarnya telah terbelah atau terbagi menjadi dua, yaitu; dari kalangan aktivis dan pasivis. Aktivis adalah anak kandung dari idealisme yang sangat ideologis. Seorang aktivis adalah seseorang yang rela bersusah payah demi dan untuk negara, atau demi dan untuk kemaslahatan ummat. Ia rela berkorban, dan rela mempertaruhkan apa pun yang ada dalam dirinya demi dan untuk negara. Dalam logical frame mereka yang ada hanyalah apa yang akan diberikan kepada negara – demi dan untuk negara?
Sedang, pasivis adalah anak kandung dari para penganut paham hedonistis yang sangat materialistis. Tidak mau capai dan juga tidak mau berpusing-pusing demi dan untuk memikirkan negara, atau demi dan untuk kemaslahatan ummat. Mereka sangat praktis dan pragmatis. Pola pikir mereka sangat sederhana kalau tidak ingin dikatakan sangat apatis atau pesimis. Kepekaan sosial pun kurang karena mereka sudah terbiasa dengan pola hidup atau pola pikir yang hanya mengedepankan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Atau, bisa juga dikatakan kalau mereka itu sangat egoistis dan individualistis.
Meski demikian, kalangan aktivis tidak boleh menjadi besar kepala, atau malah antipati terhadap kalangan pasivis. Sebaliknya, kalangan pasivis itu adalah mitra untuk diberdayakan agar mereka lebih memiliki kepekaan sosial. Syukur jika mereka rela dan mau turut menyumbangkan sesuatu yang dimilikinya untuk negara. Entah itu dengan tenaga, harta, pikiran, atau dengan ilmunya.
Ladang Jihad
Sebagai seorang aktivis, terlebih lagi sebagai kader IPM, maka kiranya tidaklah berlebihan kalau sekaranglah saatnya kita menentukan ladang jihad kita. Karena jihad adalah sebagai puncak dari keimanan dan keislaman kita. Akan tetapi, jihad di sini tentu bukanlah “jihad” sebagaimana yang dilakukan para teroris. Tentu  saja bukan itu maksudnya. Melainkan jihad yang paling tepat sekarang ini adalah ghazwul fikr – atau perang intelektual yang memang sangat dibutuhkan dewasa ini. Apalagi musuh-musuh Islam dalam menggembosi atau memusuhi dinnullah al-Islam juga dilakukan dengan cara-cara yang cerdas, terstruktur, dan terorganisasi dengan sangat baik.
Bukankah dalam salah satu hadits Rasulullah Saw mengatakan kalau kejahatan yang terstruktur dan terorganisir dengan baik itu dapat mengalahkan kebenaran?
Pun demikianlah yang tengah terjadi dengan Dunia Islam pada umumnya. Oleh karena itu, cara-cara kita dalam melakukan jihad terhadap musuh-musuh Islam yang memang sangat cerdik (kalau tidak ingin dikatakan licik), dan terstruktur dengan baik, maka kita pun juga harus melakukan dengan skema atau sistem yang juga terstruktur dan terorganisir dengan baik sebagaimana yang dilakukan musuh-musuh Islam.
Walau kita yang nota bene baru sebatas pelajar yang masih ber-tholabul ‘ilmi, namun bukan berarti kita tidak bisa memberikan sesuatu demi dan untuk negara. Setidak-tidaknya kita bisa mempersiapkan diri kita untuk menjadi seorang calon pemikir – tentunya seorang pemikir muslim. Karena, sesungguhnya ladang jihad dengan menempuh jalan ghazwul fikr ini juga tidak kalah kerasnya dibandingkan dengan jihad yang dengan menggunakan fisik. Sebaliknya, jihad dengan ghazwul fikr ini tidak jarang malah sering bisa menundukkan musuh-musuh Islam dengan cara-cara yang sangat cerdas dan diplomatis.
Sebagai contoh peristiwa Piagam Madinah. Rasulullah Saw beserta sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirinnya, ternyata mampu menjadi pucuk pimpinan di Madinah sewaktu Rasulullah Saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Padahal di Madinah sana pada waktu itu terdapat delapan Bani Yahudi yang sangat berpengaruh. Namun, nyatanya, Rasulullah Saw dapat menjadi pemimpin sekaligus juga mengalahkan mereka dengan cara-cara yang sangat cerdas dan diplomatis.
Di sinilah salah satu letak pentingnya jihad bil ghazwul fikr. Karena kita bisa mengalahkan musuh-musuh kita bukan dengan cara-cara kekerasan fisik, melainkan dengan kemampuan intelektual kita. Entah itu dengan bil kalam maupun bil qalam.
Nuun, wal qalami wamaa yasthuruun.



(Penulis adalah sekretaris bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Wonosobo periode 2012-2014)

Jumat, 16 Mei 2014

Langit Biru

LANGIT BIRU

Mengapa langit biru? :)

Langit adalah pelataran yang teramat luas... Langit menyimpan keteduhan yang biasa di rindukan...

Pertanyaan yang terbesit di atas adalah pertanyaan untuk diri saya sendiri... Karena tersebab oleh sesuatu dan beberapa hal mengapa saya sangat menyukai langit biru... ^__^

Bagi saya, biru menyimbolkan kesejukan, ketentraman, kehangatan, dan kesegaran... Dimana kenyamanan pun saya dapat kala menikmati birunya langit :)

Aahhh entahlah... Apapun alasanya... :D

Namun, langit biru menyisakan kenangan... Kenangan dimana saya berada di pelataran coklat dan menengadah ke atas... Menikmati luasnya langit dengan terbatasnya pandangan ini... Setidaknya, kala melihat langit, tidak sepadat kala memutarkan pandangan di pelataran coklat tempat ini berpijak... Terhalang oleh bangunan yang mencakar lembutnya langit... Dan bahkan karena kecilnya diri ini dan karena halangan tersebut, maka sangat terbataslah mata ini memandang sekitar... :')

Semesta meneduhkanku :)