Kala janji suci terikrarkan... Serasa ikatan yang terikat dengan do'a pun terjawab sudah... Menyempurnakan separo agama... Bersama tangan yang 'kan mengantarkan diriku ke surga... Ini lah jawaban dari 'nikahi atau sudahi, halalkan atau tinggalkan'... Kini kita bersama saling memantaskan diri... Semoga Allah memberkahi... Aamiin... :')
Rabu, 11 Juni 2014
Minggu, 08 Juni 2014
Do'aku untukmu...
Nomor : 04/SPH-HK/VI/2014
Perihal : Do'aku untukmu, sayang...
"Assalamu'alaikum... Semoga tangan yang 'kan membawaku ke surga membaca surat ini dalam lindunganNya dan dalam keadaan sehat dengan nikmatNya, aamiin... Suamiku yang ku sayangi... Menemanimu adalah kewajibanku menjadi seorang istri... Tak peduli bagaimana masa lalumu... Dimana karena masa lalu itu kau bisa petik hikmahnya hingga kau menjadi kau yang kini dan mungkin kau yang akan datang... Menemanimu adalah hal yang terindah... Kita melangkah bersama... Mungkin bukan melangkah dari NOL... Namun melangkah dari titik dimana kita berpijak dan 'kan melangkah... Suamiku... Tataplah mataku... Genggam erat tanganku dan letakkan di dadamu... Pandanglah mataku sesuka hatimu... Bila kau ingin yang lebih nyaman, peluklah diriku... Tanganku kan membelaimu dan kan menyenangkanmu... Suamiku, aku tak ingin menjadi seorang istri yang tak bisa menemani dan membantumu untuk berproses dan berprogres... Suamiku... Aku ingin dan kan selalu berusaha berada di sampingmu... Dimanapun kau berada, do'aku mengikatmu... Suamiku... Kini kita berpijak ditanah paling bawah dengan kualitas yang kan menuju ke tingkat selanjutnya... Suamiku, mari kita melangkah bersama... Semangatlah sayang... Aku ada untukmu... Bangkitlah sayangku... :)
Jumat, 06 Juni 2014
Jangan Ada Angkara
Jangan Ada Angkara
"Bersiri terpaku menengadahkan diri ke pelataran langit... Yang tampak tak lain langit malam yang kelam... Bintang tiada berserak seperti kala itu... Bulan pun tak menampakkan padang dirinya... Yang tampak ialah cahaya lampu yang semakin meredup... Hela nafasku memanjang menyambut keheningan di jiwa... Seakan tinggal dedaunan yang terbang terhempas amarah angin menubruk beringin... Ada yang lain... Ada yang lain dengan malamku... Dan aku pun duduk bersama angin malam... Ingin rasanya melukis malam dengan penaku... Agar tampak gambar yang ku rindu... Ingin ku nikmati malam ini dengan dimensi yang lalu... Bahkan panjang kelam ku nikmati hingga fajar menyingsing... Namun takutku semakin akut... Akankah esok hari masih harus ku lihat langit biru yang tak lagi membentangkan pelatarannya yang sama.... Akan esok hari masih harus ku lihat biru langit yang tak lagi membirukan diri ini seperti hari yang lalu... Bahkan tak kuasa ku menyambut senja bersama meganya... Seakan merahnya menandakan amarah... Angkara murka menghantam menggebuk lunturkan hati ini... Seakan tiada lagi daya ku goreskan pena di kanvas yang telah berbeda...
Inginku pelataran langit tetap menjadi kanvas biru yang kan menyatu dengan gores penaku... Ingin ku lukiskan kembali masa yang lalu... Kala langit tiada lalai menghangatkan diri ini... Rindu membiru merujum ulu..."
Saat hati tak lagi bernyanyi
Mentari seakan kian sembunyi
Kutunggu kau tak datang jua menyapaku
Kala badai gelombang mengguncang
Kandaskan hatiku yang kian bimbang
Kucoba teguhkan harapan yang tersisa
'Tuk cintamu
Jangan lagi ada angkara
Demi damai jiwaku
Jangan lagi ada prasangka
Yang 'kan menyiksamu
Demi cinta kita (dan resahkan jiwa)
Begitu banyak jalan berliku
Jangan luruhkan tegarnya hatimu
Dan kuatkan kembali setiap langkahmu
Bersamaku
Jangan lagi ada angkara
Demi damai jiwaku
Jangan lagi ada prasangka
Yang 'kan menyiksamu
Demi cinta kita (dan resahkan jiwa)
Biarkan damai menyapa jiwa yang luka
Biarkan cinta satukan sukma
Kamis, 05 Juni 2014
Di Batas Kota Ini
Dibatas kota ini ku menatap wajahmu
Perpisahan ini membuat lika dihati
Ingin ku berlari namun tak kuasa diriku
Engkau menangis dalam pelukanku
Sendiri kau terpaku melepas kepergianku
Air matamu berlinang membasahi pipi
Seakan kau sesali perpisahan ini
Janganlah kau sesali
Janganlah kau tangisi
Aku pergi untuk kembali lagi
Hapuslah air matamu
Hapus luka hatimu
Nantikan ... aku dibatas kota ini
Pelabuhan jadi saksi ... dermaga tua menanti
Disaat engkau berjanji tuk kembali lagi
Dipelabuhan melawai ku lepas dirimu kasih
Kuharap engkau kembali untukku lagi
"Mengitari dua kota itu... Hingga akhirnya aku terdampar di batas antara dua kota itu seorang diri... Dimana hilangnya dirinya... Kemana perginya... Tlah ku cari di semua tempat dimana kami pernah bersama... Namun ternyata tiada... Seakan nafas ini menciut... Pening menghujam menggembok akal... Tiada kuasa lagi jantung berdetak... Sunyi sendiri ter tusuk dinginnya milenia langit... Semesta meneduhkanmu..."
Kamis-Jum'at, 5-6 Juni 2014
Air Mata Rindu :'(
Tiap malam ku sendiri
Menanti datangnya hari
Yang engkau janjikan
Setia ku menunggu
Walau pun penuh dengan derita
Air mata jadi saksi
Gelisah inggat dirimu
yang selalu datang di dalam mimpiku
Kau peluk aku di dalam cinta
Bilakah kau pulang kurindu padamu Ingin ku peluk erat dirimu
biar malam ini tiada air mata
Yang menghantui dalam hidupku
Tak Ingin Sendiri
Tak Ingin Sendiri
Aku masih seperti yang dulu...
Menunggumu sampai akhir hidupku...
Kesetiaanku tak luntur...
Hatipun rela berkorban...
Demi keutuhan kau dan aku...
Biarkanlah aku memiliki...
Semua cinta yang ada di hatimu...
Apapun kan kuberikan...
Cinta dan kerinduan...
Untukmu dambaan hatiku...
Malam ini tak ingin aku sendiri...
Ku cari damai bersama bayanganmu...
Hangat pelukan yang masih ku rasa...
Kau kasih...
Kau sayang...
"Ingatkah engkau akan tembang kenangan yang satu ini? Tembang ini yang selalu engkau nyanyikan di kala kita sedang berpadu kasih... Malam ini, ku nyanyikan tembang ini berkali-kali... Di bawah langit malam yang menyelimuti... Pulang lah, kasih... Maafkan diri ini yang menggoreskan luka perih... BERTAHAN SEBENTAR LAGI SAMPAI KAU IKAT DIRIKU... :')
Selasa, 03 Juni 2014
Waktu Yang Salah
Jangan tanyakan perasaanku jika kau pun tak bisa beralih
dari masa lalu yang menghantuimu, karena sungguh ini tidak adil
Bukan maksudku menyakitimu, namun tak mudah tuk melupakan
cerita panjang yang pernah aku lalui, tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan, tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir dan setengah lagi untuk dia
Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah
Bukan ini yang ku mau,
lalu untuk apa kau datang?
Rindu tak bisa diatur,
kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan
Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah
Senin, 02 Juni 2014
Dia Yang meng-UTUH-kan Aku
Nomor : 03/SPH-HK/VI/2014
Perihal : Bungkam!
Untuk Langit Biru yang ku rindukan datangnya di hari yang mendung ini... Untuk Langit Biru yang ku nantikan kehadirannya di alam yang sepi ini... Untuk Langit Biru yang ku harapkan kehadirannya di senja menyusul malam ini... Untuk dia yang ada di sana... Di belahan langit milenia...
Senja ini begitu terasa akan heningnya mega di garis langitmu yang biasa menyapa...
Senja ini begitu terasa akan kelamnya ufuk di garis langit yang biasa menyambut mata...
Senja ini begitu terasa akan cekaman gelegar di garis langit yang bisa merengkuh di singgahsana...
Tapak kakinya melekatkan pada masa itu...
Bayangannya mendekapkan pada dimensi itu...
Seakan yang tersisa hanya gambar kenangan yang tak terbenam...
Seakan potret sastra melukiskan kerinduan tanpa hadirnya...
Ya!
Yang tersebab karena dan olehNya aku mencintai dan merindukan hadirnya...
Terbungkam seribus bahasa di bawah langit kelam seorang diri...
Meringkuk mendekapkan tangan dalam badan...
menunduk dan sekujur lemas...
Seakan tidak bernyata...
Seakan tidak bernyawa!
Dentuman gelombang tak seperti biasanya...
Bahkan siutan burung tak lagi terikat mesra...
Gemuruh dalam dada menggebuk raga hingga tiada kata...
Tiada bermakna!
Seolah raga ini terkujur lemah lemas tak kuasa...
Tak kuasa membendung lahar panas di kelopak ini...
Bahkan teriakan ini tak bersuara...
Tak bernada!
Seakan raga ini tak lagi utuh...
Seakan hati ini telah runtuh...
Dia...
Dia yang meng UTUH kan diri ini...
Seakan menghilang dan tak jua kembali...
Tiada layang yang ia selipkan disini...
Tiada kabar!
Tiada Pesan!
Berharap semesta merengkuhnya dalam hangat keamanan dan kenyamanan...
Di bawah Senja ini, do'a terselip untuknya yang ada di sana...
Langit Biru...