Misteri
Anak Berambut Gimbal
Karya : Selly
Puji Hartanto
Hawa pegunungan yang dingin, teramat dingin malah, entah berapa suhunya, bisa jadi mencapai di bawah titik nol, sedikit pun tak menyurutkan puluhan orang muda-mudi untuk melihat-lihat dari dekat cerukkan besar yang selalu mengepulkan asap tebal keputihan itu.
Itulah Kawah Sikidang!
Salah sebuah kawah yang terletak di Dataran Tinggi Dieng yang selalu ramai dikunjungi banyak orang. Terlebih di Hari Minggu atau hari liburan seperti sekarang ini. Pramudya termasuk dari salah seorang pengunjung itu. Hanya saja, laki-laki muda ini, masih saja enggan turun mendekati bibir kawah sebagaimana pengunjung lainnya. Dia malah sibuk memperhatikan ke sana kemari, seperti sedang mencari sesuatu. Entah apa yang sedang dicari-cari reporter muda dari sebuah koran harian ibu kota itu.
Sosok tubuhnya yang tinggi atletis itu sungguh sangat prima. Dadanya bidang, kulitnya putih bersih, pakaian yang dikenakannya juga cukup rapi. Terlebih lagi wajahnya yang tampan dengan pontongan rambut pendek, rapi, mirip benar seorang eksekutif muda yang tengah haus-hausnya menekuni bisnis.
Tidak heran kemunculan pemuda kota ini tak ubahnya mirip seperti Jaka Tarub yang sangat dikagumi dikagumi bidadari nan cantik jelita,Nawang Wulan. Tak salah kalau kedatangan pemuda ganteng satu ini cukup mengundang perhatian cewek-cewek yang saat itu tengah berada di seputar Kawah Sikidang. Entah itu cewek-cewek pengunjung, cewek penjual souvenir, maupun mbok-mbok penjual makanan ringan di lapak-lapak yang banyak bertebaran di kawasan wisata Kawah Sikidang.
Herannya, sedikit pun Pramoedya tak mau bergeming. Sedikit pun perhatiannya tak terusik melihat dirinya jadi bahan perhatian banyak orang. Dia masih saja berdiri tegak, dengan sebuah kamera besar menggelantung di depan perutnya, sebelah tangannya memegangi kamera kesayangannya itu, sebelah tangannya yang lain ikut-ikutan sibuk mencari-cari sosok yang sangat diinginkannya. Sosok itulah yang membuat dia capai-capai melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Dieng. Hanya saja sayang, sosok orang yang dicari-carinya selama ini belum juga ditemukannya.
Diam-diam Pramoedya mengeluh. Kali ini dia bukan hanya mengeluh karena belum dapat menemukan sosok yang diinginkannya, melainkan juga mengeluh terserang hawa dingin yang semakin lama semakin menggerogoti tulang belulangnya. Kalau bukan hanya karena permintaan sang redaktur di tempatnya bekerja, dan juga kalau bukan karena ingin memenuhi permintaan adik bungsunya yang akan berulang pada Hari Minggu ini, rasanya Pramoedya malas capai-capai melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Dieng.
Yah!
Inilah perjuangan itu. Demi profesi, juga demi menuruti kemanjaan adik bungsunya yang cantik, menggemaskan, akhirnya Pramoedya sampai juga di kawasan obyek wisata Kawah Sikidang. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencari sosok orang atau anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Konon, orang atau anak yang memiliki rambut gimbal sejak lahir itu masih titisan dewa, atau sosok anak yang sangat disukai oleh Ratu Pantai Selatan, atau ada juga yang mengatakan kalau anak itu masih memiliki garis keturunan dengan Kolodite, salah seorang pendiri kota Wonosobo yang konon juga berambut gimbal.
Benarkah itu semua?
Inilah yang sedang dicari-cari kebenarannya. Sebenarnya Pramoedya bisa saja mencari-cari beritya itu lewat internet. Tapi, permintaan dari pemimpin redaksi di koran tempatnya bekerja menghendaki lain. Dia diminta terjun langsung, observasi, investigasi or hunting langsung ke tempat agar mendapatkan berita yang benar-benar memiliki nilai human interst tinggi.
Tak terkecuali Sherina!
Satu-satunya adik ceweknya ini ternyata tidak kalah bawelnya dengan Mas Tarjo, pemimpin redaksi di kantornya. Adik ceweknya yang memang cantik ini, yang sering curhat cowok-cowoknya yang antre ingin memperebutkan cintanya ini, ternyata juga menuntut hal yang sama seperti Mas Tarjo. Observasi, investigasi dan hunting langsung ke Dieng. Mau tidak mau, Pramoedya harus menuruti permintaan sang pemimpin redaksi di kantornya, sekaligus menunjukkan bukti cinta dan kasih sayangnya terhadap Sherina, satu-satunya adik ceweknya yang memang sangat disayanginya.
Namun…
Setelah tidak kurang dari dua jam mengedarkan pandangan matanya menyusuri seantero kawasan wisata Kawah Sikidang, ternyata Pramoedya belum juga dapat menemukan sosok yang dicarinya. Dia belum dapat menemukan sosok seorang anak berambut gimbal sebagaimana yang diinginkan Mas Tarjo dan Sherina, adiknya.
“Sudahlah! Kamu nggak usah bingung. Kalau kamu sudah sampai di daerah Kawasan Wisata Kawah Sikidang, kamu nggak akan kebingungan kalau hanya untuk mencari orang atau anak-anak berambut gimbal di sana. Tak ubahnya kamu seperti mencari batu kerikil di sana. Lalu, buat apa kamu bingung? Nggak ada, kan?”
Itulah kata-kata Mas Tarjo sebelum Pramoedya melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju ke Dieng. Namun, ternyata apa yang dikatakan Mas Tarjo, sang pemimpin redaksi di kantornya tidaklah sesuai dengan kenyataan di lapangan!
“Mana batu kerikil itu? Mana anak-anak berambut gimbal yang banyak bertebaran di kawasan wisata Kawah Sikidang ini? Katanya mereka akan banyak berebut ingin minta di foto. Tinggal dikasih uang tips beberapa puluh ribu saja, mereka sudah antre ingin minta di foto. Tapi mana?”
Akhirnya keluh kesah dari mulut Pramoedya keluar juga. Setelah berjam-jam mencarinya, Pramoedya belum juga menemukan hasilnya. Akhirnya, Pramoedya memutuskan turun dari gardu pandang di seputar kawasan wisata itu, dan terus berjalan ke sana kemari mencari-cari sosok anak-anak berambut gimbal di sana.
***
Pramoedya membanting pantatnya sedikit kasar di bangku panjang di sebuah warung sederhana yang banyak bertebaran di kawasan wisata Kawah Sikidang. Kali ini wajahnya masih diliputi dengan kekesalan. Setelah ke sana kemari mencari sosok anak berambut gimbal yang diingikannya, ternya belum juga membuahkan hasil. Padahal dia sudah capai-capai melakukan perjalanan panjang dari Jakarta ke Dieng. Padahal dia harus sesegera mungkin membuat liputan berita tentang ”Misteri Anak Berambut Gimbal” di Dataran Tinggi Dieng. Padahal juga dia harus menghadiahi adik bungsunya yang akan berulang tahun di Hari Minggu nanti itu dengan foto-foto anak-anak berambut gimbal dari daerah Dataran Tinggi Dieng.
Namun…
Ah!
Semua kosong! Mlompong. Ternyata Pramoedya sama sekali tak menemukan sosok yang diinginkannya. Dia tak menemukan seorang anak manusia pun yang memiliki rambut gimbal di kawasan wisata Kawah Sikidang itu. Akhirnya Pramoedya memutuskan beristirahat, ngopi sebentar di sebuah lapak atau warung-warung sederhana yang banyak bertebaran di seputar kawasan wisata itu.
Seorang perempuan tua yang mengenakan pakaian sangat sederhana pemilik warung itu segera menyambutnya ramah. Sigap sekali dia melayani Pramoedya. Tak berapa lama kemudian, ibu tua pemilik warung itu mulai menyuguhkan segelas kopi panas di hadapan Pramoedya.
Iseng-iseng Pramoedya mengambil satu buah makanan khas dari Wonosobo ini. Mengunyahnya sebentar, dan ternyata memang enak. Rasanya agak asing bagi dia yang asli orang Jakarta. Sangat berbeda jauh dengan makanan gorengan yang sering dibelinya di dekat kantornya. Juga sangat berbeda dengan mendoan yang asli Semarang. Tempe kemul ini sungguh unik. Dikatakan kripik juga nggak tepat, namun sangat renyah, dan ah…!
Puan tak sempat lagi mengomentari makanan khas Wonosobo yang sedang dinikmatinya itu. Perhatiannya justru tengah tersita habis mencari-cari sosok anak berambut gimbal di antara kerumunan banyak orang di depan sana. Lama kelamaan hal ini turut mengundang keheranan ibu tua pemilik warung itu.
“Maaf, Nak! Ibu perhatikan, dari tadi Kisanak kok gelisah, seperti sedang mencari-cari sesuatu, ya?”
“Iya, Bu. Saya memang sedang bingung mencari anak berambut gimbal disini.”
“Sudah Ibu duga. Kisanak tentu sedang mencari-cari anak berambut gimbal di sini.”
“Lho, kok Ibu bisa tahu?”
“Yah, biasanya begitu sih. Apalagi Kisanak bawa-bawa kamera begitu. Tentu Kisanak wartawan, kan?”
“Iya, Bu. Saya memang ingin meliput berita tentang misteri anak gimbal di sini, Bu. Katanya banyak bertebaran disini, Bu. Tapi, nyatanya mana? Dari tadi saya belum menemukan seorang pun anak berambutgimbal di sini, Bu?”
“Kalau dulu memang banyak, Nak.”
“Kalau sekarang?”
“Sekarang mereka sudah nggak mau lagi difoto.”
“Kenapa memangnya?”
“Pamali. Bisa membuat sial satu keluarga.”
“Masak bisa sampai segitunya sih, Bu.”
“Yah, begitulah ceritanya, Nak…”
Kali ini Pramoedya terdiam. Entah apa yang tengah bergejolak dalam pikirannya. Entah percaya, entah tidak.
“Oh ya, Bu? Apa benar anak berambut gimbal itu masih keturunan dewa?” lanjut Pramoedya mulai mengorek keterangan lebih jauh lagi.
“Ada juga yang bilang begitu sih, Nak.”
“Ibu percaya dengan pendapat orang itu yang mengatakan kalau anak berambut gimbal itu masih keturunan dewa?”
“Ya, nggak tahu juga sih, Nak. Soalnya ada juga yang mengatakan kalau anak-anak berambut gimbal itu sangat disukai oleh Nyi Roro Kidul, Penguasa Pantai Selatan, Nak. Ada juga yang mengatakan kalau anak berambut gimbal itu juga masih keturunannya Kolodite, salah seorang pendiri kota Wonosobo ini, Nak.”
“Kalau menurut Ibu, kira-kira yang benar yang mana, Bu?”
“Wah! Ibu juga nggak tahu tuh mana yang benar, Nak. Ibu kan hanya penjual warung. Jadi mana sempat Ibu mikir sejauh itu. Barangkali Kisanak malah lebih tahu dibandingkan dengan Ibu.”
Bingung juga Pramoedya. Akhirnya dia hanya bisa garuk-garuk kepala. Tak tahu lagi apa yang mesti ditanyakan.Namun, sebagai seorang wartawan, tentu saja Pramoedya tak kan kehabisan akal untuk mengorek keterangan. Walau tadi sempat gugup, namun sekarang dia mulai dapat mengendalikan dirinya.
“Apa benar kalau anak-anak berambut gimbal itu sering minta diruwat?” lanjut Pramoedya lagi.
“Iya, Nak. Tapi biasanya kalau si anak berambut gimbal itu sudah mau minta dicukur rambutnya, Nak.”
“Biasanya umur berapa tahun anak-anak itu minta diruwat, Bu?”
“Ya, tergantung dari permintaan anaknya itu sendiri kok, Nak.”
“Begitu ya, Bu.”
“Iya.”
“Apa benar setiap permintaan anak gimbal itu harus dituruti?”
“Iya.”
“Kalau nggak dituruti bagaimana?”
“Ya. Nanti sih bakal ada musibah. Entah itu akan menimpa anak, keluarga, atau bahkan segenap penduduk dusun.”
“Sampai segitunya ya, Bu?”
“Iya sih.”
“Tapi, kalau misalnya permintaan anak-anak itu aneh-aneh bagaimana, Bu?”
“Aneh-aneh bagaimana maksudnya, Nak?”
“Ya misalnya minta dibeliin pesawat terbang, minta mobil atau yang lainnya?”
“Ya tetap harus dituruti, Nak.”
“Oh ya?”
Pramoedya terperanjat. Kedua bola matanya seperti mau loncat keluar saking kagetnya.
“Iya, Nak. Tapi, setahu Ibu, nggak ada sih sampai minta yang aneh-aneh seperti itu. Paling ya minta ditanggapi wayang atau yang lainnya.”
“Atau jangan-jangan rambut gimbal itu apa bukannya karena si orang tua saja yang nggak mau atau malas menyisirrambut anak-anaknya, hingga akhirnya rambutnya gimbak seperti itu, Bu?”
“Ya, nggak begitu juga, Nak. Walau setiap pagi disisir, kalau dasarnya gimbal ya tetap saja gimbal, Nak.”
“Begitu ya, Bu.”
“Iya, Nak.”
***
Lumayan puas Pramodya ngobrol dengan Ibu pemilik warung itu. Namun sebagaimana umumnya wartawanm, tetaps aja dia masih ingin mencari keterangan lebih lanjut. Apalagi dia belum memiliki foto anak gimbal yang akan dijadikan foto untuk beritanya, sekaligus juga akan diberikan untuk adik bungsunya yang pada hari Minggu ini ulang tahun.
Karena itulah, selepasnya dia dari kawasan wisata Kawah Sikidang, dia berusaha keluar masuk dusun di daerah Dieng Barat hanya untuk mengambil gambar anak-anak berambut gimbal. Hanya saja sayang, setiap kali dia bertemu dengan anak gimbal yang dicarinya, setiap kali itu pula anak-anak berambut gimbal itu sudah berlarian masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Mereka takut kalau difoto. Mereka tidak seperti dulu lagi. Ramah dan selalubersikap baik setiap kali ada orang yang ingin memfoto mereka.
Tapi, sekarang susahnya minta ampun, walau mereka telah diiming-imingi uang ratusan ribu sekali pun. Akhirnya Pramoedya mulai putus asa. Apalagi dari setiap penduduk dusun yang dikunjunginya mulai menunjukkan rasa tidak sukanya. Akhirnya Pramoedya memutuskan untuk pergi meninggalkan dusun itu. Dengan mengendarai Avansa-nya, Pramoedya terpaksa harus kembali ke hotelnya. Di sanalah dia mulai melamun, merenung memikirkan berita yang akan ditulisnya…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar